SELAMAT DATANG DI "hhapadoh.blogspot.com" KAPAN-KAPAN MAMPIR LAGI YA...

Jumat, 16 Maret 2012

Dalam pengharapanku, suami bragajul ......





Perasaan bahagia menyelimuti hati setiap insan, kebahagiaan yang sulit untuk di lukiskan. Barangkali, hari itu adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupnya, hari yang penuh suka cita, hari dimana seorang lelaki yang merubah statusnya menjadi seorang Suami, telah dipertemukan dengan dambaan hati yang sekaligus menjadi seorang Istri, ‘buruan’ cintanya. Senyum mengembang di langit wajah, bahkan air mata bahagia dan haru menetes mengairi taman hatinya yang rindu akan belaian cinta dan kasih sayang. Ia telah berani melangkah, demi menyelamatkan iman, agama dan hatinya.

Kursi pelaminan menjadi saksi bisu akad nikah. Hari dimana dua makhluk Allah bertemu dalam cinta kasih yang sah, terikat dalam mistsiqan ghalizhan. Kepada kedua pengantin setangkai bunga do’a dari hati yang tulus di persembahkan, “Bakarakallahu laka, wabaraka ‘alaika, wajama’a bainakum Fi khairin.” Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, amin.

Sang suami telah menempuh jalan yang lurus, jalan yang selamat dan diridhai Allah. Jalan orang-orang yang merindukan kejernihan hati dan ketentraman jiwa.



Tidak dipungkiri, seorang suami telah merancang dari jauh hari bagaimana ia menyiapkan hari yang bersejarah dalam hidupnya. Bagaimana ia menyiapkan segala keperluan untuk pernikahan, mulai dari ilmu, mental, finansial, dan kesehatan fisik. Barangkali keinginan menikah telah menjadi niat sejak beberapa tahun kebelakang, sebagaimana yang juga bergejolak dalam hati banyak anak muda. Kerinduan yang tak lagi tertahankan untuk berjumpa sang kekasih dambaan jiwa. Kerinduan untuk bisa memadu hati, menumpahkan segala keluh-kesah dan gelora jiwa.
 
Setiap laki-laki manapun mendambakan seorang istri yang solehah. Istri yang ketika dilihat menyenangkan hati, ketika diperintah ia patuh, ketika ditinggalkan ia menjaga harta dan dirinya, dan ketika salah ia mau diingatkan. Istri solihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Ia ibarat sebuah madrasah yang kelak didalamnya anak-anak yang lahir akan dibesarkan, dididik dan dibina.

 Rasulullah Saw. bersabda : Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah . (HR. Muslim).



Seorang laki-laki dewasa (calon Suami), suatu saat bercita-cita untuk membentuk rumahtangga. Pilihannya, pasti seorang wanita solehah yang menyejukkan hati dan mata. Dia pernah membayangkan, alangkah bahagianya menjadi seorang suami yang kuat pribadinya dan mampu membimbing orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya. Dia teringat akan pesan Rasulullah, bahwa "hanya lelaki yang mulia saja yang akan memuliakan wanita."
Kita pun (para suami) pernah bercita-cita mengikuti Rasulullah yang begitu sayang dan lemah lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah diri apabila membantu isteri melakukan pekerjaan rumah. 

Rumahtangga terus berlalu; hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan. Biarpun harapan dan cita-cita menghidupkan rumahtangga Muslim terus hidup, namun kenyataan pun harus di hadapi juga.
Perbedaan kepribadian, perasaan, pembawaan, selera dan kegemaran yang selama ini terbina dari latar belakang keluarga dan pendidikan yang berbeda, ternyata tidak mudah untuk disatukan. Jika sebelum perkawinan semua itu dikatakan mudah diselesaikan melalui pemahaman agama, ternyata lambat laun ada juga perselisihan. Perselisihan memang tidak dapat dielakkan dalam rumahtangga. Apalagi jika pasangan suami isteri tidak menyadari bahawa syaitan senatiasa berusaha untuk menjahanamkan anak Adam.
 
Dalam kisah perkawinan sering terjadi..... ternyata segala yang dibayangkan tidaklah seindah realitasnya. Mencontoh rumahtangga Rasulullah memang satu tuntutan. Namun sebagai seorang Islam, tantangan dan cobaan adalah peluang untuk mempertingkatkan diri dan semakin bergantung kepada Allah SWT.  Berbagai masalah dalam perkawinan dan rumahtangga harus dihadapi secara sabar dan realistik oleh pasangan suami isteri yang inginkan naungan Allah SWT. 




Disatu sisi ada isteri yang mengeluh karena cara suami menegur, dikatakan kasar dan memalukan. Disisi lain Suami pun mulai mengeluh.Ternyata isterinya tidak seperti dia impikan, karena sikap isteri yang kurang cakap mengurus keluarga. Maklum saja, ada dikalangan isteri sebelumnya sibuk belajar dan berorganisasi sehingga sangat jarang ikut mengurus masalah dapur.

Keduabelah pihak saling mencari alasan-alasan untuk memperkuat argumentasi dalam memandang sikap masing-masing pada pasangannya. Akhirnya mulai merasakan penyesalan apa yang sudah menjadi keputusannya, karena niat untuk menumpahkan perhatian sepenuhnya kepada suami/istri dan rumahtangga, dan mencapai impian menjadi suami/istri sholeh/hah sulit terwujudkan.

Kadang-kadang semangat seorang Muslimah solehah untuk keluar rumah mencari kesibukan di luar tidak diimbangi dengan peranannya dalam rumahtangga. Hal ini menyebabkan suami mengeluh karena dibebani dengan tugas-tugas rumahtangga. Ada juga di kalangan isteri terlalu banyak menceritakan kekurangan suaminya, dan sering lupa untuk melihat kebaikan dan kelebihan suaminya.
Ada suami yang sikapnya dingin, tidak pandai memuji dan bercanda dengan isterinya. Apabila melihat kebaikan pada isterinya dia diam saja, tetapi apabila melihat kelemahan, segera diungkit. Memang, banyak cobaan pada pasangan suami isteri dalam rumahtangga.




Tidak semua yang indah-indah seperti diimpikan sebelum berumahtangga menjadi kenyataan. Sudah menjadi sunnah kehidupan, bahwa akan berlaku pergeseran kecil dan perbedaan, sepanjang menjadi suami isteri. Itu namanya asam garam berumahtangga.

Tapi kadang pada kondisi tertentu, dimana kedua belah pihak (suami/istri) sudah tidak ada lagi kesamaan dalam bersikap...maka salah satu harus ada yang menjadi penyelamat untuk menjaga keutuhan rumah tangganya. 

Sebagai bahan renungan:

Kasus perceraian di Kota Bekasi masih tinggi. Pengadilan Agama Bekasi mencatat ada sekitar 500 lebih pasangan suami istri mengajukan perceraian selama 2012 ini.  Hal itu, rata-rata diajukan pihak istri. (Kasus Perceraian Didominasi Istri)
Olehkarena itu, melihat kasus ini nampaknya peranan wanita/seorang istri di zaman sekarang ini sangat memegang peranan penting dalam menyelamatkan keutuhan rumah tangganya
Memang jika melihat diluar kacamata keimanan, sepertinya istri selalu saja terpojokkan, apalagi kalau kita simak hal berikut ini:

Golongan Wanita Yang Di Siksa Dalam Neraka “Abdullah Bin Masud r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW. bersabda :

 “Apabila seorang wanita mencucikan pakaian suaminya, maka Allah SWT. mencatat baginya seribu kebaikan, dan mengampuni dua ribu kesalahannya, bahkan segala sesuatu yang disinari sang surya akan memintakan ampunan baginya, dan Allah s.w.t. mengangkat seribu derajat untuknya.” 
(H.R. ABU MANSUR DIDALAM KITAB MASNADIL FIRDAUS)


Ali r.a. meriwayatkan sebagai berikut : Saya bersama-sama Fathimah berkunjung kerumah Rasulullah, maka kami temui beliau sedang menangis. Kami bertanya kepada beliau: “Apakah yang menyebabkan engkau menangis wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Pada malam aku di Israkan ke langit, saya melihat orang-orang yang sedang mengalami penyiksaan, maka apabila aku teringat keadaan mereka, aku menangis.”



Saya bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apakah engkau lihat?” Beliau bersabda:
1. Wanita yang digantung dengan rambutnya dan otak kepalanya mendidih.
2. Wanita yang digantung dengan lidahnya serta tangan dicopot dari punggungnya, aspal mendidih dari neraka dituang ke kerongkongnya.
3. Wanita yang digantung dengan buah dadanya dari balik punggungnya, sedang air getah kayu Zakum dituangkan ke kerongkongnya.
4. Wanita yang digantung, diikat kedua kaki dan tangannya kearah ubun-ubun kepalanya, serta dibelit dan dibawah kekuasaan ular dan kala jengking.
5. Wanita yang memakan badannya sendiri, serta dibawahnya tampak api yang berkobar-kobar dengan hebatnya.
6. Wanita yang memotong-motong badannya sendiri dengan gunting dari neraka.
7. Wanita yang bermuka hitam serta dia makan usus-ususnya sendiri.
8. Wanita yang tuli, buta dan bisu didalam peti neraka, sedang darahnya mengalir dari lubang-lubang badannya (hidung, telinga, mulut) dan badannya membusuk akibat penyakit kulit dan lepra.
9. Wanita yang berkepala seperti kepala babi dan berbadan himmar (keledai) yang mendapat berjuta macam siksaan.
10. Wanita yang berbentuk anjing, sedangkan beberapa ular dan kala jengking masuk melalui duburnya atau mulutnya dan keluar melalui duburnya, sedangkan malaikat sama-sama memukuli kepalanya dengan palu dari neraka.
Maka berdirilah Fatimah seraya berkata, “Wahai ayahku, biji mata kesayanganku, ceritakanlah kepadaku, apakah amal perbuatan wanita-wanita itu.” Rasulullah s.a.w. bersabda : “Hai Fatimah, adapun tentang hal itu :
1. Wanita yang digantung dengan rambutnya kerana tidak menjaga rambutnya (di jilbab) dikalangan laki-laki.
2. Wanita yang digantung dengan lidahnya, kerana dia menyakiti hati suaminya, dengan kata-katanya.”
Kemudian Rasulullah S.A.W. bersabda : “Tidak seorang wanita pun yang menyakiti hati suaminya melalui kata-kata, kecuali Allah s.w.t. akan membuat mulutnya kelak dihari kiamat selebar tujuh puluh dzira kemudian akan mengikatkannya dibelakang lehernya.”
3. Adapun wanita yang digantung dengan buah dadanya, kerana dia menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.
4. Adapun wanita yang diikat dengan kaki dan tanganya itu, kerana dia keluar rumah tanpa seizin suaminya, tidak mandi wajib dari haid dan dari nifas (keluar darah setelah melahirkan).
5. Adapun wanita yang memakan badannya sendiri, kerena dia bersolek untuk dilihat laki-laki lain serta suka membicarakan aib orang lain.
6. Adapun wanita yang memotong-motong badannya sendiri dengan gunting dari neraka, dia suka menonjolkan diri (ingin terkenal) dikalangan orang banyak, dengan maksud supaya mereka (orang banyak) itu melihat perhiasannya, dan setiap orang yang melihatnya jatuh cinta padanya, karena melihat perhiasannya.
7. Adapun wanita yang diikat kedua kaki dan tangannya sampai keubun-ubunnya dan dibelit oleh ular dan kala jengking, kerana dia mampu untuk mengerjakan sholat dan puasa, sedangkan dia tidak mau berwudhu dan tidak sholat dan tidak mau mandi wajib.
8. Adapun wanita yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya seperti keledai (himmar), karena dia suka mengadu-domba serta berdusta.
9. Adapun wanita yang berbentuk seperti anjing, kerana dia ahli fitnah serta suka marah-marah pada suaminya.




Dalam sebuah hadis Rasulullah S.A.W. bersabda : empat jenis wanita yang berada di surga dan empat jenis wanita yang berada di neraka dan beliau menyebutnya di antara empat jenis perempuan yang berada di surga adalah :
1. Perempuan yang menjaga diri dari berbuat haram lagi berbakti kepada Allah dan suaminya.
2. Perempuan yang banyak keturunannya lagi penyabar serta menerima dengan senang hati dengan keadaan yang serba kekurangan (dalam kehidupan) bersama suaminya.
3. Perempuan yang bersifat pemalu, dan jika suaminya pergi maka ia menjaga dirinya dan harta suaminya, dan jika suaminya datang ia mengekang mulutnya dari perkataan yang tidak layak kepadanya.
4. Perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya dan ia mempunyai anak-anak yang masih kecil, lalu ia mengekang dirinya hanya untuk mengurusi anak-anaknya dan mendidik mereka serta memperlakukannya dengan baik kepada mereka dan tidak bersedia kawin karena khawatir anak-anaknya akan tersia-sia (terlantar).

Kemudian Rasulullah S.A.W. bersabda : Dan adapun empat jenis wanita yang berada di neraka adalah :
1. Perempuan yang jelek (jahat) mulutnya terhadap suaminya, jika suaminya pergi, maka ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminnya datang ia memakinya (memarahinya).
2. Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang ia tidak mampu.
3. Perempuan yang tidak menutupi dirinya dari kaum lelaki dan keluar dari rumahnya dengan menampakkan perhiasannya dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik perhatian kaum lelaki).
4. Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan, minum dan tidur dan ia tidak senang berbakti kepada Allah, Rasul dan suaminya.

Oleh karena itu seorang perempuan yang bersifat dengan sifat-sifat (empat) ini, maka ia dilaknat termasuk ahli neraka kecuali jika ia bertaubat. Diceritakan dari isteri Khumaid As-sa-idiy bahwa ia datang kepada Rasulullah S.A.W. lalu berkata : “Hai Rasulullah sesungguhnya aku senang mengerjakan sholat bersamamu”. Beliau berkata : “Aku mengerti bahwa engkau senang mengerjakan sholat bersamaku, akan tetapi sholatmu di tempat tidurmu itu lebih baik dari pada sholatmu dikamarmu dan sholatmu dikamarmu lebih baik dari solatmu dirumahmu dan sholatmu dirumahmu lebih baik daripada solatmu di mesjidku”.  (Bagi lelaki sangat dituntut sembahyang berjemaah di mesjid).




Menyimak hal tersebut di atas.... jika melihatnya dengan kacamata keimanan, maka semuanya tidak akan menjadi beban buat seorang perempuan/istri dalam menjalani kehidupannya. Bahkan justru akan menjadi lebih terpancarkan keindahan sinarnya dalam menjalani biduk rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Istri solehah akan selalu menjadi sumber kekuatan, tempat bertenang ketika gelisah melanda jiwa, tempat berbagi ketika resah menghimpit hati. Istri solihah bukanlah tipe wanita materialistis, yang ketika ada uang, abang disayang, nggak ada uang abang jangan pulang atau piring melayang. Sabar disaat kesulitan melanda, qana`ah dengan apa yang ada dan bersyukur ketika mendapat kelebihan rezki. Bagi seorang istri solihah keridhaan suami adalah diatas segalanya, walau ia harus melawan keinginannya. Hidupnya seluruhnya ia abdikan untuk suami dalam rangka beribadah dan ketaatan pada Allah Swt. Istri solehah adalah ibarat taman indah nan penuh pesona. Tak lelah mata memandang keindahan budi pekerti dan tingkah lakunya.

Istri solehah selalu dirindu dan dikenang. Rindu pada belaian lembutnya, rindu pada teguran halusnya, rindu akan senyum tulusnya, rindu pada wajahnya yang teduh, air mukanya yang jernih dan rindu pada kata-katanya yang mesra. Hati akan resah bila lama tidak berjumpa, bila jarak telah memisahkan. Hati akan gelisah bila satu hari tidak bertemu. Karena cinta yang telah tenggelam dalam samudera hati, cinta akan kebaikan dan kebagusan akhlaknya. Sungguh benar apa yang disampaikan Rasulullah SAW. bahwa memilih wanita solehah akan membahagiakan seseorang di dunia dan di akhirat.



Istri solehah adalah harta yang paling berharga dan bernilai tinggi yang tiada duanya. Sungguh beruntung dan berbahagia seseorang yang dikaruniai seorang Bidadari Dunia. Hidup akan penuh dengan kebaikan dan ketaatan. Hidup yang selalu bersemangat, penuh cinta dan cita-cita mulia.

Ciri khas seorang wanita shalihah adalah ia mampu menjaga pandangannya. Ciri lainnya, dia senantiasa taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up-nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah memperbanyak dzikir kepada Allah di mana pun berada. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al Quran.

Jika seorang muslimah menghiasi dirinya dengan perilaku takwa, akan terpancar cahaya keshalihahan dari dirinya.

Wanita shalihah tidak mau kekayaan termahalnya berupa iman akan rontok. Dia juga sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi.

Wanita shalihah juga harus pintar dalam bergaul dengan siapapun. Dengan pergaulan itu ilmunya akan terus bertambah, sebab ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik sehingga hal itu berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Pendek kata, hubungan kemanusiaan dan taqarrub kepada Allah dilakukan dengan sebaik mungkin. Ia juga selalu menjaga akhlaknya. 



Pasangan suami istri akan mempunyai kelebihan menghadapi cobaan berumah tangga, ketika mereka berbekal pemahaman agama dan rasa ketergantungan yang tinggi kepada Allah SWT. Dengan kata lain, mereka mempunyai pemikiran yang mungkin tidak dirasakan oleh pasangan yang jauh dari Islam. Adakalanya kita memerlukan bantuan pihak ketiga dalam menyelesaikan masalah rumahtangga kita, kerana "kaca-mata" yang kita pakai sudah begitu kelabu sehingga gagal melihat semua kebaikan pasangan hidup kita. Mungkin pihak ketiga bisa membantu mencuci atau memperbaharui kacamata kita supaya pandangan kita kembali jelas dan wajar.

Pasangan yang bijak dan tinggi pemahaman agamanya, akan mampu untuk istiqamah dalam menjaga perkawinan mereka dan lebih mampu menghadapi badai melanda. Adalah penting sebelum kita mendirikan rumahtangga, mempunyai suatu tanggapan bahwa kita (suami/isteri) berjanji akan melengkapi antara satu sama lain, karena manusia bukanlah makhluk sempurna. Manusia tidak mungkin dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna seperti bidadari atau malaikat. Kita harus siap menerima pasangan hidup seadanya, termasuk segala kekurangannya, selama tidak melanggar syariat. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebiasaan dan watak yang berbeda, yang membentuk watak dan persepsi hidup tersendiri. Apabila kita menerima keadaan ini, insyaAllah kita akan berhasil menghindar dari menikah dalam illusi kita pada hari kita diijabkabulkan, tetapi sebaliknya kita sudah menikah dalam realitas kita. Setiap pasangan Muslim, tidak boleh menjadikan rumahtangga sebagai tujuan. Ingat, ia hanya alat untuk kita meningkatkan diri dan ketaqwaan kepada Allah SWT.  Menikah berarti kita mampu mengawal nafsu daripada langkah yang salah. Dan dari semua ini, akan mendapat pahala dari Allah SWT.  Betapa indahnya Islam.  



Akhirnya, semoga tulisan ini menjadikan manfaat buat kita semua (khususnya diri ini) dan sekaligus menjadikan sebuah do'a dalam pengharapan ku sebagai suami yang bragajul, untuk menepis kegersangan hati kita dalam berumah tangga. Amin.......

Mohon maaf jika ada tutur yang salah, karena kebenaran yang sempurna mutlak milik Allah SWT, sedangkan manusia (saya) adalah gudangnya kesalahan.    

Salam Ukhuwah sahabat......









Minggu, 12 Februari 2012

Sudahkah Rumahku menjadi Surgaku...?




Photobucket


Pembahasan tentang berkeluarga selalu menjadi kajian yang menarik dan menggoda hati setiap insan. Karena memang  keluarga dalam pandangan Islam adalah “labinatul ulaa” (batu pertama) dalam bangunan masyarakat muslim dan merupakan taman yang mendatangkan kasih sayang, ketenangan, kedamaian dan keharmonisan. Kebahagiaan rumahtangga adalah surga kecil yang diharapkan semua orang, sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW : “Rumahku Surgaku..” .


"Semoga menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah".

Kata-kata itulah yang sering diucapkan atau ucapan yang diberikan kepada calon suami-istri yang akan menikah.
Peranan agama dalam membentuk keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah sangat penting, karena agama merupakan ketentuan-ketentuan Allah Swt yang membimbing dan mengarahkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah Swt berperan ketika pemeluk-Nya memahami dengan baik dan benar, menghayati, dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari agama yang dianutnya, yaitu Islam.
Dalam pandangan Al-Qur’an, salah satu tujuan pernikahan adalah untuk menciptakan keluarga sakinah, mawaddah warahmah antara suami dan istri bersama anak-anaknya.
Hal ini tercemin dalam Al-qur’an, Allah berfirman,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (sakinah), dan dijadikan-Nya diantaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. “ (Ar-Ruum [30]: ayat 21)




 1. Sakinah  mengandung makna ketenangan.
Sakinah terlihat pada kecerahan raut muka yang disertai kelapangan dada, budi bahasa yang halus, yang dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati, serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat. Itulah makna sakinah secara umum dan makna-makna tersebut yang diharapkan dapat menghiasi setiap keluarga yang hendak menyandang Keluarga Sakinah.

 2. Mawaddah  mengandung arti rasa cinta.
Mawaddah ini muncul karena di dalam pernikahan ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat merasakan kesenangan dan kenikmatan, serta mendapatkan manfaat dengan adanya anak dan mendidik dan membesarkan mereka. Disamping itu dia merasakan adanya ketenangan, kedekatan dan kecenderungan kepada istrinya. Sehingga secara umum tidak akan didapatkan mawaddah diantara manusia yang satu dengan manusia yang lain sebagaimana mawaddah (rasa cinta) yang ada di antara suami istri.

3. Rahmah  mengandung arti Rasa Sayang
Rasa sayang kepada pasangannya merupakan bentuk kesetian dan kebahagiaan yang dihasilkannya.
Perlu digaris bawahi bahwa sakinah mawaddah warahmah tidak datang begitu saja, tetapi ada syarat bagi kehadirannya. Ia harus diperjuangkan, dan yang lebih utama, adalah menyiapkan kalbu. Sakinah, mawaddah dan rahmah bersumber dari dalam kalbu, lalu terpancar ke luar dalam bentuk aktifitas sehari-hari, baik didalam keluarga maupun dalam masyarakat.




Perjalanan berkeluarga dan membina rumah tangga tidak selalu seindah melewati  jalan bertaburan bunga yang harum mewangi, ada kalanya jalan yang dilalui adalah lintasan penuh duri dan bebatuan yang tajam.  Jika tidak diantisipasi dan disikapi dengan tepat,  maka kehancuran rumahtangga menjadi akhir kisah cinta yang pernah dibina.
 
Biasanya awal kehancuran itu adalah berkurangnya kemesraan suami istri, dikarenakan lemahnya kesadaran bahwa perjalanan rumahtangga tidak selalu indah, ditambah lagi dengan kurangnya pemahaman bahwa hidup ini hanyalah ujian dari Allah kepada hamba-Nya, termasuk pasangan hidup kitapun adalah ujian tersendiri bagi kita.

Ada sebagian orang diawal pernikahan sangat mengharapkan kesempurnaan pasangannya, dalam perjalanan biduk rumahtangga, semua sifat  dan karakter asli dari pasangan tidak  diterima sebagaimana  adanya. Semua hanya berujung pada kekecewaan. Sebagian lagi menjadi tidak harmonis karena satu sama lain tidak terbuka dalam masalah-masalah kehidupan, sehingga tersumbatnya jalur jalur komunikasi menjadikan suasana rumah tangga semakin misterius.  Dan tidak jarang pula ketidak harmonisan di rumah tangga diakibatkan terbiasa membesar-besarkan masalah yang sebenarnya remeh.
Jika cinta tak lagi bersemi indah, meski tidak bercerai secara fisik tetapi hati  antara yang satu dengan yang lain sebenarnya sudah tidak bertautan lagi. Na’udzubillahi min dzalik.


Maka penting bagi kita merawat cinta kasih agar terhindar musibah rumah tangga.  Ada beberapa hal yang mulai hari ini dan seterusnya penting kita perhatikan  dan senantiasa kita rawat, antara lain:

1. Ketaqwaan
Menurut Sayyid Quth dalam tafsirnya—Fi Zhilal Al-Qur`an—taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri kehidupan.

Dalam sebuah riwayat juga dikisahkan saat Umar ra bertanya kepada Ubay bin Ka’ab apakah taqwa itu? Dia menjawab; “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?” Umar menjawab; “Pernah!” Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab; “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.” Maka Ubay berkata; “Maka demikian pulalah taqwa!”

Berangkat dari pemahaman kita tentang taqwa, maka dalam mengayuh biduk rumah tangga kita perlu senantiasa mengasah kepekaan hati kita, agar hati kita menjadi penuh dengan kesadaran dalam menjalani semua liku kehidupan kita, senantiasa waspada ketika godaan dan cobaan datang menghadang.

Masalah apapun yang kita hadapi dalam berumah tangga, pastikan pilihan-pilihan sikap, perilaku dan perkataan kita hanya yang di ridhoi oleh Allah. Segarkan selalu cinta pada pasangan kita dengan menyegarkan kesadaran kita, bahwa: “Aku mencintai pasanganku semata mata karena kecintaanku pada Allah.”




2. Kasih Sayang
Kasih sayang adalah dua kata yang seolah sederhana namun pada kenyataannya tidak sesederhana mengucapkannya. Misal untuk para suami kadang merasa sudah memberikan kasih sayang pada istrinya padahal sang istri justru tidak merasakan apa yang dimaksud oleh suaminya dengan kasih sayang.

Yang saya maksud dengan kasih disini adalah sebuah perwujudan dari perasaan cinta kepada pasangan dengan memberikan nafkah lahir,  sedangkan sayang diwujudkan dalam bentuk nafkah batin untuk keluarga kita.

Terkadang memang terkesan seperti kurang adil jika ternyata kita baru memberi kasih tetapi belum memberi sayang. Atau sebaliknya bisa jadi kita baru memberi sayang tetapi belum dapat sepenuhnya memberi kasih pada pasangan dan keluarga kita.

Dengan senantiasa memperhatikan pemenuhan kasih dan sayang pada keluarga kita insyallah kemesraan akan selalu terjaga kehangatannya.




3. Kesetiaan
Dalam berumah tangga kesetiaan bukanlah sekedar berdampingan, tetapi yang dimaksud dengan setia termasuk juga menjaga kemuliaan, akal, jaminan hidup, keilmuan, keselamatan jiwa dan keturunan.

Dengan senantiasa berupaya menjaga kesetiaan pada pasangan dan keluarga insyaAllah biduk rumah tangga yang dikayuh akan senantiasa kuat walau badai menghantam. Mari senantiasa memperhatikan kemuliaan pasangan kita, memberikan pendidikan yang terbaik bagi pasangan dan keluarga kita. Hingga benar-benar terwujud rumah tangga yang kuat dan harmonis sebagai penopang peradaban dimasa yang akan datang.

4. Komunikasi
Komunikasi ibarat air bagi tumbuhan. Tanpa komunikasi cinta kita akan layu, kering dan akhirnya matilah romantisme kehidupan keluarga.

Komunikasi yang baik dengan pasangan dan keluarga memiliki peranan yang penting untuk merawat cinta kasih dalam membina rumahtangga. Bayangkan bila seandainya suami dan istri  jarang berbicara dan tidak mau mendengarkan atau memberikan respon ketika pasangannya mengajak berbicara. Sudah pasti pasangan itu tidak akan saling memahami atau mempunyai hubungan dekat satu dengan yang lain. Mereka hanya akan seperti orang asing yang berkumpul dalam satu atap rumah. Rumah hanya akan menjadi seperti kuburan.

Memang menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan dan  keluarga tidaklah semudah membalikkan tangan. Maka sudah semestinya kita membangun kesadaran akan tanggung jawab atas  diri kita masing-masing untuk terus mengusahakan, memelihara, dan mempertahankan agar komunikasi dapat berjalan baik. Namun, meskipun telah diusahakan, terkadang komunikasi itu masih tidak bisa terjalin dengan baik. Perbedaan pendapat, kebutuhan, sifat, atau kemampuan masing-masing pasangan dan anggota keluarga bisa menjadi penyebab ketidaklancaran komunikasi dalam rumah tangga.

Teruslah berkreasi dalam menemukan pola komunikasi terbaik dengan pasangan dan keluarga kita, agar cinta kasih dan keharmonisan senantiasa tumbuh bagai bunga bunga nan indah dalam rumah tangga kita.



 5. Keterbukaan
Ternyata dengan komunikasi saja belumlah cukup, karena bisa saja komunikasi  berlangsung tanpa keterbukaan. Namun kenyataannya keterbukaan itu tidak akan bisa lahir tanpa adanya komunikasi.

Keterbukaan merupakan sikap yang perlu di biasakan bagi pasangan suami istri. Dalam merawat cinta kasih dan memelihara keharmonisan rumah tangga.

Sikap tertutup antara suami istri dan anggota keluarga dapat mendatangkan masalah, sebaliknya keterbukaan akan membawa kebaikan berlimpah bagi pasangan suami istri, atau setidak-tidaknya dapat mengurangi masalah-masalah yang seharusnya tidak terjadi.

Dalam membina rumah tangga keterbukaan itu akan lahir jika kita membiasakan untuk mengomunikasikan segala sesuatu kepada pasangan kita, jangan biarkan pasangan kita menduga-duga dan menjadi kecewa, karena seolah-olah ada yang masih kita sembunyikan.

Dengan keterbukaan maka akan terjadi “Kutahu yang kumau dan kutahu yang kau mau” atau juga “kau tahu yang kau mau dan kautahu yang kumau”



6. Kejujuran
Dalam mengayuh biduk rumah tangga kejujuran adalah faktor lain yang menjadi pilar penting untuk memelihara cinta kasih dan menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”

Sungguh kejujuranlah yang mengundang kebaikan itu hadir dalam rumah tangga kita. Berbohong adalah sukses jangka pendek, karena sekali ketahuan berbohong oleh pasangan kita maka secara otomatis runtuh sudah benteng kepercayaan, digantikan dengan prasangka dan kecurigaan-kecurigaan.

Kejujuran adalah sukses jangka panjang. Allah SWT dan hati nurani selamanya tidak dapat dibohongi oleh siapapun dan dengan cara apapun.

Kejujuran bukan sekedar tidak mencuri tetapi tidak melakukan tindakan-tindakan yang mencurigakan dalam kehidupan berumah tangga juga merupakan suatu kejujuran.

Ingatlah! Kejujuran itu adalah hal yang tiada ternilai dalam rumah tangga kita. Ingatlah! Kejujuran sesungguhnya telah banyak menyelamatkan rumah tangga dari bencana perceraian.

Semoga Allah senantiasa menjadikan cinta dan kasih sayang dalam keluarga kita senantiasa segar dan harum. Hingga terwujudkan hubungan cinta dan saling berkasih sayang dengan memelihara kemesraan dalam kehidupan rumah tangga. Amin.......



Photobucket

Photobucket


Wallahu’alam.




di posting dari: 
- Ahmad Lubis (Praktisi Hipnosis)
- Keluarga Sakinah










Rabu, 19 Oktober 2011

Kejujuran hati seorang sahabat .......





Sebenarnya setiap manusia adalah SELEBRITIS, 
bukankah setiap hari kita dishooting oleh malaikat RAQIB dan ATID, 
mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.
Bayangkan....!
Dokumen film itu akan diputar ulang di bioskop AKHIRAT nanti tanpa SENSOR sedikitpun, 
hanya mereka yang berakting sesuai tuntutan SKENARIO AL-QUR'AN dan HADIST lah yang akan mendapatkan PIALA SYURGA AWARD.
Mau piala.....?
Ayo perbaiki akting kita lewat IMAN dan TAQWA.
Semoga kita mendapatkan PIALA SYURGA FIRDAUS..... Amin..
Mari kita SHOLAT tepat waktu, kalau kamu mau berhasil.

ajakan ku,  untuk sahabat ........




Hati ingin selalu berada di dekat mu, tak ingin sedikitpun berada jauh dari mu
kau yang selama ini mengajariku arti kekuatan, dan kau pula yang mengajariku jalan kesuksesan

Sahabat......masih terlihat jelas bayangan saat kita bersama, saat kau genggam tangan ini untuk memberikan semangat, saat kau menghibur diri ini dikala duka. Disaat kau membawa diri ini ketempat ....kemanapun yang ku mau. agar diri ini merasa bahagia. Disaat kau memenuhi apa yang menjadi keinginanku. Ku takan pernah bisa melupakan pengorbananmu sahabat......
Kini saatnya aku harus pergi untuk menggapai cita.....berat hati ini untuk memendam rasa rinduku pada mu. Meskipun disaat seperti ini kita tak sempat saling bertemu karena kesibukkan.....tapi hati ini kan selalu menyayangi mu....ku merindukan mu sahabat.........

laa takhof  wa laa tahzan .... innAllaaha ma'anaa .....

Suatu kebahagiaan hanya dirasakan oleh hati, dan mungkin sulit untuk diungkapkan oleh kata.
Itu yang ku rasakan, saat bareng bersama mu.

Apa yang kamu rasakan ....semuanya sama dengan apa yang ku rasakan, tidak ada perbedaan sedikitpun, 
Kita merasakan sesuatu yang lebih.....ketika dekat sama kamu.
Kadang aku suka teringat sama kamu terus kalau aku lagi di sini....terbayang senyuman kamu, yang membuat aku semangat.


laa takhof  wa laa tahzan .... innAllaaha ma'anaa .....

Tidak tahu kenapa .....
dari malam bahkan tadi shalat shubuh pun aku tidak bisa menahan air mata,
karena terharu rasa kebahagiaan saat bareng...dan kesedihan saat pisah sama kamu.
Suatu kebahagiaan Insya Allah aku tidak akan lupa,
disitu aku mulai termotivasi untuk menjalani hidup,
padahal baru tadi sore aku berpisah sama kamu, tapi rasanya seperti yang sudah lama aku tidak ketemu sama kamu.
Mudah-mudahan suatu saat nanti aku bisa ketemu lagi bersama mu, dengan suatu kebahagiaan yang lebih dari ini.
Aku minta maaf .... kalau ada sikapaku yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kamu.


 
Yaa Rabb ...
Engkau yang Maha Pengasih ......
kasihanilah kami semua dengan Rahmat Mu .....
berilah kebahagiaan kepada orang yang telah membuat kami bahagia ......
berilah keberkahan hidup untuk kami semua ......

Yaa Rabb ....
Jadikan persahabatan dan pertemuan ini menjadi suatu keberkahan untuk kami semua.... dengan satu tujuan dan satu arah, yaitu "KeridhoanMu" ..... Amin.....



laa takhof  wa laa tahzan .... innAllaaha ma'anaa .....

Andai saja kamu ada disini, mungkin akan tahu bagaimana keadaan dan perasaan ku.
dan mungkin juga aku tidak akan sesedih ini ....
Sering kali aku teringat masa pada waktu aku dahulu, mungkin tidak bisa aku ucapkan dengan kata.
Di sini dan tempat ini aku hanya bisa menangisi keadaan, aku tidak mau  kamu ninggalin aku.
Aku ingin merasakan suatu kebahagiaan bersama kamu yang lebih dari sebelumnya, pada saat nanti aku sudah mencapai apa yang ku harapkan selama ini.
Aku sayang kamu, mungkin kamu adalah orang yang Allah kirim buat aku, setelah sekian lama aku ingin punya sahabat yang bisa tahu keadaan aku.

Ilaahi ..... Anta maqshuudii ... Wa ridhooka mathluubi ....

Sebenarnya .....
Hati ini rindu ingin bertemu dengan mu, namun bila dipikirkan .... rasanya diri ini malu,
takut jika suatu saat nanti aku tidak bisa menjadi orang yang kau harapkan.




Ilaahi ..... Anta maqshuudii ... Wa ridhooka mathluubi ....

Betapa pilunya hati ini saat mendengar ucapan "selamat tinggal sahabat"  dari diri mu
meski semua dianggap bercanda, tetapi hati ini terasa terpukul, seakan aku takut kehilangan mu
takut bila aku harus berpisah dengan mu

Mesti hati ini selalu gelisah, seakan takut kehilangan mu......namun apalah daya kau slalu berbuat seperti ini.
Walau hati ini terasa sulit untuk menerimanya......
Harus bagaimana lagi, mungkin ku hanya bisa menangisi semua yang terjadi.



Laa takhof wa laa tahzan ..... InnAllaaha ma'anaa....

Pada suatu hari Umar bin Khatab bertanya pada gurunya: "Apakah cinta sejati itu...?"
Guru menjawab:
Berjalanlah lurus di taman bunga yang luas...petiklah satu bunga yang terindah menurut mu, dan jangan pernah berbalik ke belakang.
Kemudian Umar melaksanakannya.....dan kembali dengan tangan hampa...
Guru bertanya:  "Mana bunganya...?"
Umar menjawab: "Aku tak bisa mendapatkannya....?", sebetulnya aku telah mendapatkannya, tapi aku berfikir ....di depan pasti ada yang lebih bagus lagi.
Ketika aku telah sampai di ujung taman, aku baru sadar...bahwa yang aku temui pertama tadi itulah yang terbaik, tapi aku tidak bisa kembali lagi ke belakang.
Guru menjawab: 
"Seperti itulah cinta sejati........" semakin kau mencari yang terbaik, maka kau takan pernah menemukannya. Jangan pernah tumbuh di hatimu....karena waktu "TAK AKAN" pernah kembali.......




Aku malu atas semua kebaikan dan kasih sayang yang kamu sudah berikan buat ku, dan aku lebih malu lagi kepada Allah yang sudah ngirim kamu buat ku....
Mungkin selama ini kamu berharap kalau aku bisa hafal Al-Qur'an dan bisa berangkat ke Madinah......mungkin itu alasan kamu mau dekat sama aku.....
Aku takut dan khawatir kalau kedepan nya nanti aku belum bisa mencapai itu semua....kamu justru malah berubah. Takut kalau kamu ninggalin aku pada saat aku belum bisa mencapai apa yang kamu harapkan.

Ilaahi ..... Anta maqshuudii ... Wa ridhooka mathluubi ....


Ya Allah .....
perkayalah saudaraku ini dengan keilmuan ...
hiasi hatinya dengan kesabaran .....
muliakan wajahnya dengan ketaqwaan ....
perindah fisiknya dengan kesehatan .....
serta terimalah amal ibadahnya dengan kelipatgandaan .....




Amin...ya Allah.....ya...Rabbal'alamiin............







Kamis, 16 Juni 2011

Ketika diluar nalar pemikiran 2



Ketika sepasang suami istri di kota-kota besar, meninggalkan anak-anaknya dan diasuh oleh seorang pembantu/suster....sudah merupakan hal biasa....
Begitu juga sepasang suami isteri yang akan saya jadikan sebagai tokoh utama dalam kisah ini adalah sebuah keluarga kecil yang setiap harinya disibukkan oleh pekerjaan kantornya, baik suami maupun istrinya. Sehingga terpaksa harus merelakan anaknya diasuh oleh seorang pembantu rumahnya. Saya sengaja tidak menyebutkan identitas sang tokoh cerita ini, untuk menjaga nama baiknya. Tapi ini penting untuk diceritakan agar menjadi bahan renungan buat kita semua, sehingga hal yang terjadi ini tidak terulang kembali.




Begini.........

Sepasang suami istri ini dikaruniai Allah seorang anak perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Anaknya hampir setiap hari bermain sendirian di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya, karena dia sibuk bekerja di dapur. Kadang anak kecil itu bermain ayunan... atau bermainan dengan mainan yang dibeli ayahnya.....atau  memetik bunga dihalaman rumahnya.




Suatu hari dia melihat sebatang paku berkarat di dekat dia sedang bermain. Dan ia pun menggunakannya untuk mencoret lantai tempat dekat mobil ayahnya sedang diparkir..... tetapi karena lantainya terbuat dari marmer,  maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya dengan rasa penuh kepolosan sebagi seorang bocah kecil. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Akhirnya dia pun mendapatkan keasikan dalam berkreativitas melukis.

Hari itu ayah dan ibunya menggunakan motor ke tempat kerja, karena ingin menghindari kemacetan di jalan.




Ditengah kesibukan Ayah dan ibunya bekerja....sang bocah kecil cantik dan lucu tengah asik melukis mobil baru ayahnya. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan.... maka ia mulai beralih ke sebelah kiri mobil tersebut. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya...gambarnya sendiri... lukisan ayam... kucing dan lain. dengan penuh berharap, imaginasinya dapat memberikan surves buat sang ayah yang menjadi idolanya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat tiba waktu pulang ayah ibunya.... terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si Ayah yang belum lagi masuk ke rumah, masih dalam keadaan kelelahan pulang kerja.... ini pun terus menjerit histeris, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak mendengar jeritan itu.... bergegas lari keluar. Dia juga beristighfar....Allaahuakbar..?. Mukanya merah pudar, ketakutan.... lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, sang pembantu terus mengatakan.....Saya tidak tahu..tuan...?. Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan....!!  hardik si isterinya lagi.




Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata....Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan....?  katanya sambil memeluk ayahnya penuh manja, seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabarannya.....bergegas mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya dengan keras. Si anak yang tak mengerti apa-apa...... menagis kesakitan...pedih... sekaligus ketakutan.
Puas memukul telapak tangan sang bocah, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya, sedangkan si ibu hanya mendiamkan saja....seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang diberikan suaminya. 




Pembantu rumah terbengong-bengong..... tidak tahu harus berbuat apa. Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah merasa puas memberikan hukuman, masuk ke rumah diikuti si ibu, dan akhirnya pembantu rumah tersebut segera mendekati sang bocah kecil yang sedang kesakitan...lalu menggendong ...dan membawanya ke kamar dia.





Setelah di kamar...Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Lalu pembantu rumah dengan penuh rasa iba, membawanya anak ke kamar mandi dan dimemandikannya. Sambil menyiram dengan air......dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantunya.


 


Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak, pembantu rumah mengadu ke majikannya. “oleskan obat saja....!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia juga istrinya tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum obat saja ,” jawab si ibu...... Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat...... anaknya (Dita) dalam pelukan pembantu rumah......dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.




Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu ke pembantunya. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap...... Dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu.... dipotong/amputasi karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah.....demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.




Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan linangan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih.....ditatapnya muka ayah dan ibunya.....kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… ? Dita tidak akan melakukannya lagi…. ? Dita tak mau lagi ayah pukul.....?. Dita tak mau jahat lagi… ? Dita sayang ayah..sayang ibu....??”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti.....??.” katanya memandang wajah pembantu rumah, yang ahirnya  membuat wanita itu menangis lagi.


 
“Ayah.. kembalikan tangan Dita....?. Untuk apa diambil...?.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi ayaah......!!  Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ...? Bagaimana Dita mau bermain nanti ....?  Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi.....?, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi.... tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak kecil, cantik dan lugu itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan..... dan ia masih belum mengerti,  mengapa tangannya tetap harus dipotong, meski sudah minta maaf…

Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathinnya, sampai ahirnya sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihan.... dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…



Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut, tetap hidup tegar..... bahkan masih tetap sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya. Allaahuakbar.......





Sabtu, 14 Mei 2011

Demi Waktu...........






بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

وَالْعَصْرِ
1. Demi waktu, 
Allah ? bersumpah dengan al ‘ashr yang bermakna waktu, zaman atau masa. Pada zaman/masa itulah terjadinya amal perbuatan manusia yang baik atau pun yang buruk. Jika waktu atau zaman itu digunakan untuk amal kebajikan maka itulah jalan terbaik yang akan menghasilkan kebaikan pula. Sebaliknya jika digunakan untuk kejelekan maka tidak ada yang dihasilkan kecuali kerugian dan kecelakaan.

Rasulullah ? bersabda:
“Dua kenikmatan yang kebanyakan orang lalai di dalamnya; kesehatan, dan waktu senggang” (HR. At Tirmidzi no. 2304,) 
Kemudian di hari kiamat kelak Allah ? akan menanyakan tentang umur seseorang, untuk apa dia pergunakan?  Sebagaimana hadits Rasulullah, yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Mas’ud.

“Tidaklah bergeser telapak kaki bani Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang lima perkara; umurnya untuk apa ia gunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan apa yang ia perbuat dengan ilmu-ilmu yang telah ia ketahui. (HR. At Tirmidzi no. 2416 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 947) 



إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
2. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi
Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini bermacam-macam, bisa kerugian yang bersifat mutlak, seperti keadaan orang yang merugi di dunia dan di akhirat, yang dia kehilangan kenikmatan dan diancam dengan balasan di dalam neraka jahim. Dan bisa juga kerugian tersebut menimpa seseorang akan tetapi tidak mutlak hanya sebagian saja. (Taisir Karimirrahman, karya Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di)

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)
 
Berkata Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di: “Jika dua sifat (iman dan amal shalih) di atas terkumpul pada diri seseorang maka dia telah menyempurnakan dirinya sendiri.” (Taisir Karimirrahman).




Terkadang kita bersopan santun berwajah cerah dan bertutur manis kepada orang lain di luar rumah namun hal yg sama sulit dilakukan di dlm rumah tangganya. Kadang kita bisa bersikap pemurah kepada orang lain ringan tangan dalam membantu suka memaafkan dan berlapang dada namun giliran berhadapan dengan “orang rumah” suami, istri ataupun anak sikap seperti itu tdk tampak pada diri kita.

Menyinggung akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarga maka hal ini tidak hanya berlaku kepada para suami sehingga para istri merasa suami sajalah yg tertuntut untuk berakhlak mulia kepada istrinya. Sama sekali tidak dapat dipahami seperti itu. Karena akhlak mulia ini harus ada pada suami dan istri sehingga bahtera rumah tangga dapat berlayar di atas kebaikan. Memang suamilah yg paling utama harus menunjukkan budi pekerti yg baik dalam rumah tangga karen dia sebagai qawwam sebagai pimpinan. Kemudian dia tertuntut untuk mendidik anak istri di atas kebaikan sebagai upaya menjaga mereka dari api neraka sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala: 

“Wahai orang2 yg beriman jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakar adl manusia dan batu penjaga malaikat-malaikat yg kasar yg keras yg tdk pernah mendurhakai Allah terhadap apa yg diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yg diperintahkan.”




Seorang istri pun harus memerhatikan perilaku kepada sang suami sebagai pemimpin hidupnya. tdk pantas ia “menyuguhi” suami ucapan yg kasar sikap membangkang membantah dan mengumpat. tdk semesti ia tinggi hati terhadap suami dari mana pun keturunan seberapa pun kekayaan dan setinggi apa pun kedudukannya. tdk boleh pula ia melecehkan keluarga suami menyakiti orang tua suami menekan suami agar tdk memberikan nafkah kepada orang tua dan keluarganya.
Kenyataan banyak kita dapati istri yg berani kepada suaminya. tdk segan saling berbantah dgn suami bahkan adu fisik. Ia tdk merasa berdosa ketika membangkang pada perintah suami dan tdk menuruti kehendak suami. Ia merasa tenang-tenang saja ketika hak suami ia abaikan. 



Ketika saya teringat akan lyrik lagu yang berjudul "Demi Masa" Begini......



Demi masa…
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan…
Yang beriman dan beramal saleh

Demi masa…
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan…
Nasihat kepada kebenaran dan kesabaran

Gunakan kesempatan yang masih diberi
Moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan
Kerna ia takkan kembali

Ingat lima perkara, sebelum lima perkara
Sihat sebelum sakit
Muda sebelum tua, kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati
 
 
Saya merasakan ada sesuatu yang membuat hati ini gemetar, ketika menyimak akan bait terakhir dari lyrik lagu tersebut di atas. Banyak PR yang rasa-rasanya belum sempurna tuk saya lakukan. Kadang kekuatan semangat tuk melakukannya hilang sekejap oleh kemilaunya fatamorgana sang duniawi. Suliiiit.....rasanya hati ini untuk menghindarinya.





Ya...Robb, saya tidak pernah memungkirinya akan kesehatan yang telah Kau-berikan....Usia dibilang tua juga belum....? dikatakan miskin juga, masih ada yang lebih susah....? Ya...Robb, saya bersyukur sampai detik ini masih tetap diberikan kesempatan tuk membaca ayat-ayat-Mu, dalam sisa usiaku ini......tapi ya..Robb. kadang aku merasa telah melupakan akan pemberian waktu-Mu...... terasa hati ini terhimpit oleh sempitnya waktu......sehingga aku merasa jauh dari-Mu.


Ya...Robb.......kalau saya boleh bermohon.......?? berikan kepada ku, orang-orang disekitarku yang dapat memberikan waktu lapang untuk mendekati-Mu.........Amin....