SELAMAT DATANG DI "hhapadoh.blogspot.com" KAPAN-KAPAN MAMPIR LAGI YA...

Sabtu, 19 Mei 2012

Mengapa bukan ayah saja yang meninggal...?






Tak terasa hari sudah semakin senja.....rasa jenuh hinggap erat dipikiranku ini, tapi kaki rasanya berat tuk melangkah meninggalkan tempat pekerjaan. Akhirnya saya mencoba tuk membuka layar monitor komputer yang ada dihadapanku, dan mulai terasa sedikit demi sedikit terusir rasa jenuh ini. Saya mulai mengisi waktu menjelang pulang kerja dengan membuat artikel yang sudah lama tak sempat kulakukan...entah kenapa....
Semoga bermanfaat ya ...sahabat...? mau kan baca kisah ini......

Kisah kali ini diilhami oleh sebuah artikel yang berjudul "Mengapa bukan ayah saja yang meniggal" oleh Akhi Waryanto. Dan saya tidak akan merubah sedikitpun judulnya (kecuali isi saya berikan improvisasi disana-sini agar lebih terasa lebih dalam)....karena ini adalah yang membuat saya penasaran akan kisahnya, semoga ini juga kan terjadi pada mu......sahabat.


Photobucket



Begini......
Di sebuah pinggiran kota besar, ada Sekolah Dasar dimana seorang bocah, pendiam, kecerdasannya biasa-biasa saja tapi selalu ingin tahu, dia sangat mempigurkan guru agamanya dibanding orang tuanya sendiri. Dia adalah seorang siswa kelas 3 SD di sekolah tersebut.



Suatu kali ustadz di kelasnya memotivasi para siswa untuk menjaga shalat berjamaah termasuk "shalat shubuh".
Bagi si anak, shalat Shubuh adalah merupakan sesuatu yg sulit dilakukan. Namun sang bocah ini telah bertekad untuk menjalankan shalat shubuh di masjid. 
Lalu dgn cara bagaimana anak ini memulainya?
Dibangunkan ayahnya kah.... ? ibunya kah...? atau dengan alarm...?...tak terbayangkan buat bocah sekecil itu harus bagaimana melakukannya....




Sang anak nekat tak tidur semalaman lantaran takut bangun kesiangan. Semalaman anak begadang, hingga tatkala adzan berkumadang, iapun ingin segera keluar menuju masjid.
 
Tapi...tatkala ia membuka pintu rumahnya...Suasana betapa gelap pekat, sunyi, senyap...membuat nyalinya menjadi ciut....tak terpikirkan sebelumnya, seegera pintu rumahnya ditutup kembali, sibocah mulai resah akan niatnya yang takkan kesampaian...padahal sudah berusaha semalaman tidak tidur.

Tapi tak beberapa lama....sang bocah mendengar suara langkah kaki kecil dan pelan, dengan diiringi suara tongkat memukul-mukul tanah.....tok...tok...tok....!!
Dengan hati agak takut, si bocah mulai memberanikan diri membuka pntu rumahnya kembali.




Ya.......(dengan hati agak sumringah), ada kakek-kakek ternyata berjalan dengan tongkatnya.....Sang bocah yakin, kakek itu sedang berjalan menuju masjid.....lalu ia mengikuti di belakangnya, tanpa sepengetahuan sang kakek Dan akhirnya berbahagialah sang bocah itu dapat melakukan shalat shubuh berjamaah di Mesjid.
Begitu pula cara ia pulang dari masjid. Bagi sang bocah menjadikan itu sebagai kebiasaan.....begadang malam, shalat shubuh mengikuti sang kakek ...dan ia tidur setelah shubuh hingga menjelang sekolah.





Hari demi hari...sang bocah melakukan aktivitas, nyaris tak satupun kedua orang tuanya yang tahu, selain hanya melihat sang bocah lebih banyak tidur di siang hari daripada bermain dan orang tuanya hampir tak memperdulikannya.... ini dilakukan sang bocah agar bisa begadang malam. 
Hingga suatu hari........
Terdengar kabar oleh si bocah, sang kakek  itu meninggal
Sontak, si bocah menangis kehilangan........




Sang ayah heran...”Mengapa kamu menangis, nak? Ia bukan kakekmu...bukan siapa-siapa kamu!”
Saat si ayah mengorek sebabnya, sang bocah justru berkata, “kenapa bukan ayah saja yang meninggal?”,  anak itu semakin histeris nangisnya......kakeek..... jangan pergi......!!
“Subhanallah.....nak, kenapa kamu berbicara seperti itu?” kata sang ayah heran.
Si bocah berkata, “Mendingan ayah saja yg meninggal, karena ayah tidak pernah membangunkan aku shalat Shubuh, dan mengajakkku ke masjid. ......ayah jahat......!!
Sementara kakek itu....setiap pagi saya bisa berjalan di belakangnya untuk shalat jamaah Shubuh.”, kakek...kenapa kakek pergi....dengan siapa nanti saya ke mesjid......??


ALLAHU AKBAR...! .....Menjadi kelu lidah sang ayah, hingga tak kuat menahan tangisnya....Maafkan ayah nak....ayah terlalu disibukan pekerjaan, sampai nggak perdulikan semua ini.....





Kata-kata anak tersebut mampu merubah sikap dan pandangan sang ayah, hingga membuat sang ayah sadar sebagai pendidik dari anaknya, dan lebih dari itu sebagai hamba dari Pencipta-Nya yg semestinya taat menjalankan perintah-Nya. Sang ayah rajin shalat berjamaah karena dakwah dari anaknya......Subhanallah...

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang orang yang berkata: "Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa(QS. Al Furqon: 74)




Kadang para orang tua tidak menyadari, bahwa diantara anak kita ada salah seorang yang diberikan oleh Allah SWT cahaya keimanannya sejak dini, sehingga dia sebetulnya menginginkan orang tuanya tuk menggemblengnya dan selalu mengingatkan akan kebaikan.
Saya pun merasakan itu, ketika di sekolah tempat saya mengajar sepuluh tahun yang lalu. Salah seorang siswa marah justru karena ada seorang guru yang membiarkan teman-teman sekelasnya ribut, dia memukul meja....seketika keributan di kelas itu menjadi hening....dan seketika itu juga anak yang memukul meja  keluar meninggalkan kelas, guru dan teman-temannya. Saya hampiri anak itu...dan dia mulai bercerita akan peristiwa yang terjadi. Akhirnya...saya mencoba memberikan ketenangan padanya agar tidak usah takut....karena kamu benar.
Semoga ini kan menjadi pengalaman yang bermanfaat buat kita semua...tuk menjalani kehidupan selanjutnya menjadi lebih baik lagi. Amin.....

Salam Ukhuwah.




Photobucket



   

Kamis, 10 Mei 2012

Ketika cinta memudar .....





“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (sakinah), dan dijadikan-Nya diantaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. “ (Ar-Ruum [30]: ayat 21)


Dalam hal keluarga seringkali terdengar sebutan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Sakinah artinya tentram, yaitu adanya kepercayaan dalam berumah tangga, dan saling memahami sifat pasangan masing-masing. Keluarga sakinah menunjukan keluarga yang tenang dan damai. Mawaddah artinya cinta, yang merupakan tahapan berikutnya yang dirasakan pada pasangan. Cinta yang didasarkan atas rasa cinta kepada Allah SWT. Keluarga mawaddah menunjukan keluarga yang saling mencitai dan menyayangi. Rahmah artinya rahmat, merupakan akhir dari segala perasaan. Dalam tahap ini yaitu menjalankan pernikahan dengan benar-benar sehingga memproleh ridha Allah SWT. Dalam garis besar tujuan keluarga yaitu menjadi tempat yang tenang dan harmonis sebagai tempat lahirnya keturunan yang baik yang kemudian menjadi bagian masyarakat yang membangun. Sementara fungsi dari keluarga selain untuk mengikat cinta satu sama lain juga sebagai pembentuk generasi penerus keluarga.


Menurut Prof Dr Hamka, rahmah lebih tinggi kedudukannya daripada mawaddah sebab ia kasih mesra di antara suami isteri yang bukan lagi berasaskan keinginan syahwat, sebaliknya rasa kasih sayang murni yang tumbuh dari jiwa yang paling dalam sehingga suami isteri merasakan kebahagiaan yang tidak bertepi dan ketenangan yang tidak berbatas. Yang mereka inginkan adalah mengisi hari-hari akhir dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya secara bersama-sama. Mereka juga berusaha memberikan contoh yang baik, teladan dan nasihat kepada anak cucu supaya mereka tidak salah dalam memilih jalan hidup di dunia yang penuh dugaan ini. Inilah hakikat rahmah itu.

Allah akan menurunkan rahmah di dalam satu keluarga apabila keluarga berkenaan dibina atas niat mencari keredaan Allah. Oleh sebab itu, di dalam proses membina satu rumah tangga, Rasulullah memberikan bimbingan kepada umat Islam agar memilih pasangan karena empat prinsip, yaitu kecantikan, keturunan, kekayaan dan agamanya. Akan tetapi Rasulullah memberatkan agar agama menjadi keutamaan. Ada kalanya orang memilih pasangan karena kecantikan dan kekayaan sehingga mereka lupa bahwa kecantikan dan harta bersifat sementara. Begitu juga dengan keturunan dan nasab tidak selamanya menjamin kebahagiaan.




Pada sikon kekinian, banyak hal  terjadi dalam masyarakat, yang secara langsung dan tidak, mempengaruhi setiap anggota keluarga. Ketidaksiapan dan ketidaksanggupan menanggapi serta mengatasi setiap permasalahan tersebut, berdampak pada hancurnya keluarga, termasuk putusnya ikatan perkawinan atau perceraian.
Dinamika dalam perkawinan dan keluarga, memunculkan hal-hal membangun, sejahtera, kebahagiaan, dan juga keributan, dan berbagai ancaman terhadap keutuhan keluarga. Ada banyak faktor yang  menyumbangkan terputusnya suatu perkawinan, hal tersebut antara lain;

 
  • Kehilangan cinta kasih. Pada umumnnya laki-laki dan perempuan memasuki hidup dan kehidupan sebagai suami-isteri  dengan alasan cinta. Namun, cinta tersebut hanya sekedar kata cinta dan tanpa makna mendalam serta ikatan yang kuat. Cinta seperti itu tidak berisi kasih-sayang sejati atau agape. Jika seperti itu, maka suami-isteri mudah kehilangan cinta yang berdampak pada retaknya hubungan mereka, kemudian berujung pada perceraian. Kasih sejati mampu menutup segala bentuk kekurangan dan sebagai pengikat yang mempersatukan suami-isteri sampai maut memisahkan mereka.  
  • Ketidakmampuan menyesuaikan diri. Setiap laki-laki dan perempuan, sebelum mereka menjadi suami-isteri, mempunyai berbagai latar belakang; misalnya, budaya, agama, pendidikan, tingkat dan status sosial, ekonomi, gaya hidup, agama. Ketika masih pacaran dan bertunangan, mereka belajar untuk mencapai kesepadanan dan kesusaian antar keduanya. Akan tetapi, ketika proses tersebut belum mencapai tingkat maksimal atau memadai, mereka sudah menikah dan menjadi suami-isteri. Pada sikon seperti itu, ditambah dengan perkembangan dan pengaruh dari luar keluarga,  suami atau isteri terjebak dalam dunianya[sesuai latar belakangnya] sambil tidak mau menyesuaikan diri dengan sikon pasangannya. Jika hal itu, terus menerus terjadi maka semakin lama memunculkan pemisahan dalam berbagai hal yang berujung pada perceraian.
  • Hidup yang monoton. Suami-isteri yang telah lama menjalani hidup dan kehidupan keluarga, kadang-kadang terjerumus ke dalam sesuatu [kondisi hidup dan kehidupan] yang monoton dan membosankan. Akibat, suami-isteri inginkan sesuatu yang bernuansa baru; namun kadang-kadang justru meninggalkan suami atau isterinya. Kesepian hidup dan kehidupan. Biasanya, pada suami-isteri yang anak-anaknya sudah dewasa dan telah membangun keluarga sendiri, memasuki hari-hari kesendirian dan kesepian. Dengan itu, memudahkan munculnya kebosanan.



Photobucket





Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari dzikir kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (Al-Munafiquun [63]: ayat 9) 


 

Perlu digaris bawahi bahwa sakinah mawaddah warahmah tidak datang begitu saja, tetapi ada syarat bagi kehadirannya. Ia harus diperjuangkan, dan yang lebih utama, adalah menyiapkan kalbu. Sakinah, mawaddah dan rahmah bersumber dari dalam kalbu, lalu terpancar ke luar dalam bentuk aktifitas sehari-hari, baik didalam keluarga maupun dalam masyarakat.




Bagaimana mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah itu?
Untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah perlu melalui proses yang panjang dan pengorbanan yang besar, di antaranya:

  • Niatkan saat menikah untuk beribadah kepada Allah SWT dan untuk menghidari hubungan yang dilarang Allah SWT
  • Suami berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dengan dorongan iman, cinta, dan ibadah. Seperti memberi nafkah, memberi keamanan, memberikan didikan islami pada anak istrinya, memberikan sandang pangan, papan yang halal, menjadi pemimpin keluarga yang mampu mengajak anggota keluaganya menuju ridha Allah dan surga -Nya serta dapat menyelamatkan anggota keluarganya dari siksa api neraka.
  • Istri berusaha menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan dorongan ibadah dan berharap ridha Allah semata. Seperti melayani suami, mendidik putra-putrinya tentang agama islam dan ilmu pengetahuan, mendidik mereka dengan akhlak yang mulia, menjaga kehormatan keluarga, memelihara harta suaminya, dan membahagiakan suaminya.
  • Suami istri saling mengenali kekurangan dan kelebihan pasangannya, saling menghargai, merasa saling membutuhkan dan melengkapi, menghormati, mencintai, saling mempercai kesetiaan masing-masing, saling keterbukaan dengan merajut komunikasi yang intens.
  • Berkomitmen menempuh perjalanan rumah tangga untuk selalu bersama dalam mengarungi badai dan gelombang kehidupan.
  • Suami mengajak anak dan istrinya untuk shalat berjamaah atau ibadah bersama-sama, seperti suami mengajak anak istrinya bersedekah pada fakir miskin, dengan tujuan suami mendidik anaknya agar gemar bersedekah, mendidik istrinya agar lebih banyak bersyukur kepada Allah SWT, berzikir bersama-sama, mengajak anak istri membaca al-qur’an, berziarah qubur, menuntut ilmu bersama, bertamasya untuk melihat keagungan ciptaan Allah SWT. Dan lain-lain.
  • Suami istri selalu memohon kepada Allah agar diberikan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah.
  • Suami secara berkala mengajak istri dan anaknya melakukan instropeksi diri untuk melakukan perbaikan dimasa yang akan datang. 
  • Saat menghadapi musibah dan kesusahan, selalu mengadakan musyawarah keluarga. Dan ketika terjadi perselisihan, maka anggota keluarga cepat-cepat memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan nafsu amarahnya.
 Wallahu Alam




Akhirnya penulis serahkan  segalanya padamu wahai sahabatku.....Semoga kita diberikan kekuatan, kemampuan dan kesabaran dalam menghadapi semuanya.  Amin.......








Jumat, 16 Maret 2012

Dalam pengharapanku, suami bragajul ......





Perasaan bahagia menyelimuti hati setiap insan, kebahagiaan yang sulit untuk di lukiskan. Barangkali, hari itu adalah hari yang paling bersejarah dalam hidupnya, hari yang penuh suka cita, hari dimana seorang lelaki yang merubah statusnya menjadi seorang Suami, telah dipertemukan dengan dambaan hati yang sekaligus menjadi seorang Istri, ‘buruan’ cintanya. Senyum mengembang di langit wajah, bahkan air mata bahagia dan haru menetes mengairi taman hatinya yang rindu akan belaian cinta dan kasih sayang. Ia telah berani melangkah, demi menyelamatkan iman, agama dan hatinya.

Kursi pelaminan menjadi saksi bisu akad nikah. Hari dimana dua makhluk Allah bertemu dalam cinta kasih yang sah, terikat dalam mistsiqan ghalizhan. Kepada kedua pengantin setangkai bunga do’a dari hati yang tulus di persembahkan, “Bakarakallahu laka, wabaraka ‘alaika, wajama’a bainakum Fi khairin.” Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, amin.

Sang suami telah menempuh jalan yang lurus, jalan yang selamat dan diridhai Allah. Jalan orang-orang yang merindukan kejernihan hati dan ketentraman jiwa.



Tidak dipungkiri, seorang suami telah merancang dari jauh hari bagaimana ia menyiapkan hari yang bersejarah dalam hidupnya. Bagaimana ia menyiapkan segala keperluan untuk pernikahan, mulai dari ilmu, mental, finansial, dan kesehatan fisik. Barangkali keinginan menikah telah menjadi niat sejak beberapa tahun kebelakang, sebagaimana yang juga bergejolak dalam hati banyak anak muda. Kerinduan yang tak lagi tertahankan untuk berjumpa sang kekasih dambaan jiwa. Kerinduan untuk bisa memadu hati, menumpahkan segala keluh-kesah dan gelora jiwa.
 
Setiap laki-laki manapun mendambakan seorang istri yang solehah. Istri yang ketika dilihat menyenangkan hati, ketika diperintah ia patuh, ketika ditinggalkan ia menjaga harta dan dirinya, dan ketika salah ia mau diingatkan. Istri solihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Ia ibarat sebuah madrasah yang kelak didalamnya anak-anak yang lahir akan dibesarkan, dididik dan dibina.

 Rasulullah Saw. bersabda : Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah . (HR. Muslim).



Seorang laki-laki dewasa (calon Suami), suatu saat bercita-cita untuk membentuk rumahtangga. Pilihannya, pasti seorang wanita solehah yang menyejukkan hati dan mata. Dia pernah membayangkan, alangkah bahagianya menjadi seorang suami yang kuat pribadinya dan mampu membimbing orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya. Dia teringat akan pesan Rasulullah, bahwa "hanya lelaki yang mulia saja yang akan memuliakan wanita."
Kita pun (para suami) pernah bercita-cita mengikuti Rasulullah yang begitu sayang dan lemah lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah diri apabila membantu isteri melakukan pekerjaan rumah. 

Rumahtangga terus berlalu; hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan. Biarpun harapan dan cita-cita menghidupkan rumahtangga Muslim terus hidup, namun kenyataan pun harus di hadapi juga.
Perbedaan kepribadian, perasaan, pembawaan, selera dan kegemaran yang selama ini terbina dari latar belakang keluarga dan pendidikan yang berbeda, ternyata tidak mudah untuk disatukan. Jika sebelum perkawinan semua itu dikatakan mudah diselesaikan melalui pemahaman agama, ternyata lambat laun ada juga perselisihan. Perselisihan memang tidak dapat dielakkan dalam rumahtangga. Apalagi jika pasangan suami isteri tidak menyadari bahawa syaitan senatiasa berusaha untuk menjahanamkan anak Adam.
 
Dalam kisah perkawinan sering terjadi..... ternyata segala yang dibayangkan tidaklah seindah realitasnya. Mencontoh rumahtangga Rasulullah memang satu tuntutan. Namun sebagai seorang Islam, tantangan dan cobaan adalah peluang untuk mempertingkatkan diri dan semakin bergantung kepada Allah SWT.  Berbagai masalah dalam perkawinan dan rumahtangga harus dihadapi secara sabar dan realistik oleh pasangan suami isteri yang inginkan naungan Allah SWT. 




Disatu sisi ada isteri yang mengeluh karena cara suami menegur, dikatakan kasar dan memalukan. Disisi lain Suami pun mulai mengeluh.Ternyata isterinya tidak seperti dia impikan, karena sikap isteri yang kurang cakap mengurus keluarga. Maklum saja, ada dikalangan isteri sebelumnya sibuk belajar dan berorganisasi sehingga sangat jarang ikut mengurus masalah dapur.

Keduabelah pihak saling mencari alasan-alasan untuk memperkuat argumentasi dalam memandang sikap masing-masing pada pasangannya. Akhirnya mulai merasakan penyesalan apa yang sudah menjadi keputusannya, karena niat untuk menumpahkan perhatian sepenuhnya kepada suami/istri dan rumahtangga, dan mencapai impian menjadi suami/istri sholeh/hah sulit terwujudkan.

Kadang-kadang semangat seorang Muslimah solehah untuk keluar rumah mencari kesibukan di luar tidak diimbangi dengan peranannya dalam rumahtangga. Hal ini menyebabkan suami mengeluh karena dibebani dengan tugas-tugas rumahtangga. Ada juga di kalangan isteri terlalu banyak menceritakan kekurangan suaminya, dan sering lupa untuk melihat kebaikan dan kelebihan suaminya.
Ada suami yang sikapnya dingin, tidak pandai memuji dan bercanda dengan isterinya. Apabila melihat kebaikan pada isterinya dia diam saja, tetapi apabila melihat kelemahan, segera diungkit. Memang, banyak cobaan pada pasangan suami isteri dalam rumahtangga.




Tidak semua yang indah-indah seperti diimpikan sebelum berumahtangga menjadi kenyataan. Sudah menjadi sunnah kehidupan, bahwa akan berlaku pergeseran kecil dan perbedaan, sepanjang menjadi suami isteri. Itu namanya asam garam berumahtangga.

Tapi kadang pada kondisi tertentu, dimana kedua belah pihak (suami/istri) sudah tidak ada lagi kesamaan dalam bersikap...maka salah satu harus ada yang menjadi penyelamat untuk menjaga keutuhan rumah tangganya. 

Sebagai bahan renungan:

Kasus perceraian di Kota Bekasi masih tinggi. Pengadilan Agama Bekasi mencatat ada sekitar 500 lebih pasangan suami istri mengajukan perceraian selama 2012 ini.  Hal itu, rata-rata diajukan pihak istri. (Kasus Perceraian Didominasi Istri)
Olehkarena itu, melihat kasus ini nampaknya peranan wanita/seorang istri di zaman sekarang ini sangat memegang peranan penting dalam menyelamatkan keutuhan rumah tangganya
Memang jika melihat diluar kacamata keimanan, sepertinya istri selalu saja terpojokkan, apalagi kalau kita simak hal berikut ini:

Golongan Wanita Yang Di Siksa Dalam Neraka “Abdullah Bin Masud r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW. bersabda :

 “Apabila seorang wanita mencucikan pakaian suaminya, maka Allah SWT. mencatat baginya seribu kebaikan, dan mengampuni dua ribu kesalahannya, bahkan segala sesuatu yang disinari sang surya akan memintakan ampunan baginya, dan Allah s.w.t. mengangkat seribu derajat untuknya.” 
(H.R. ABU MANSUR DIDALAM KITAB MASNADIL FIRDAUS)


Ali r.a. meriwayatkan sebagai berikut : Saya bersama-sama Fathimah berkunjung kerumah Rasulullah, maka kami temui beliau sedang menangis. Kami bertanya kepada beliau: “Apakah yang menyebabkan engkau menangis wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Pada malam aku di Israkan ke langit, saya melihat orang-orang yang sedang mengalami penyiksaan, maka apabila aku teringat keadaan mereka, aku menangis.”



Saya bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apakah engkau lihat?” Beliau bersabda:
1. Wanita yang digantung dengan rambutnya dan otak kepalanya mendidih.
2. Wanita yang digantung dengan lidahnya serta tangan dicopot dari punggungnya, aspal mendidih dari neraka dituang ke kerongkongnya.
3. Wanita yang digantung dengan buah dadanya dari balik punggungnya, sedang air getah kayu Zakum dituangkan ke kerongkongnya.
4. Wanita yang digantung, diikat kedua kaki dan tangannya kearah ubun-ubun kepalanya, serta dibelit dan dibawah kekuasaan ular dan kala jengking.
5. Wanita yang memakan badannya sendiri, serta dibawahnya tampak api yang berkobar-kobar dengan hebatnya.
6. Wanita yang memotong-motong badannya sendiri dengan gunting dari neraka.
7. Wanita yang bermuka hitam serta dia makan usus-ususnya sendiri.
8. Wanita yang tuli, buta dan bisu didalam peti neraka, sedang darahnya mengalir dari lubang-lubang badannya (hidung, telinga, mulut) dan badannya membusuk akibat penyakit kulit dan lepra.
9. Wanita yang berkepala seperti kepala babi dan berbadan himmar (keledai) yang mendapat berjuta macam siksaan.
10. Wanita yang berbentuk anjing, sedangkan beberapa ular dan kala jengking masuk melalui duburnya atau mulutnya dan keluar melalui duburnya, sedangkan malaikat sama-sama memukuli kepalanya dengan palu dari neraka.
Maka berdirilah Fatimah seraya berkata, “Wahai ayahku, biji mata kesayanganku, ceritakanlah kepadaku, apakah amal perbuatan wanita-wanita itu.” Rasulullah s.a.w. bersabda : “Hai Fatimah, adapun tentang hal itu :
1. Wanita yang digantung dengan rambutnya kerana tidak menjaga rambutnya (di jilbab) dikalangan laki-laki.
2. Wanita yang digantung dengan lidahnya, kerana dia menyakiti hati suaminya, dengan kata-katanya.”
Kemudian Rasulullah S.A.W. bersabda : “Tidak seorang wanita pun yang menyakiti hati suaminya melalui kata-kata, kecuali Allah s.w.t. akan membuat mulutnya kelak dihari kiamat selebar tujuh puluh dzira kemudian akan mengikatkannya dibelakang lehernya.”
3. Adapun wanita yang digantung dengan buah dadanya, kerana dia menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.
4. Adapun wanita yang diikat dengan kaki dan tanganya itu, kerana dia keluar rumah tanpa seizin suaminya, tidak mandi wajib dari haid dan dari nifas (keluar darah setelah melahirkan).
5. Adapun wanita yang memakan badannya sendiri, kerena dia bersolek untuk dilihat laki-laki lain serta suka membicarakan aib orang lain.
6. Adapun wanita yang memotong-motong badannya sendiri dengan gunting dari neraka, dia suka menonjolkan diri (ingin terkenal) dikalangan orang banyak, dengan maksud supaya mereka (orang banyak) itu melihat perhiasannya, dan setiap orang yang melihatnya jatuh cinta padanya, karena melihat perhiasannya.
7. Adapun wanita yang diikat kedua kaki dan tangannya sampai keubun-ubunnya dan dibelit oleh ular dan kala jengking, kerana dia mampu untuk mengerjakan sholat dan puasa, sedangkan dia tidak mau berwudhu dan tidak sholat dan tidak mau mandi wajib.
8. Adapun wanita yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya seperti keledai (himmar), karena dia suka mengadu-domba serta berdusta.
9. Adapun wanita yang berbentuk seperti anjing, kerana dia ahli fitnah serta suka marah-marah pada suaminya.




Dalam sebuah hadis Rasulullah S.A.W. bersabda : empat jenis wanita yang berada di surga dan empat jenis wanita yang berada di neraka dan beliau menyebutnya di antara empat jenis perempuan yang berada di surga adalah :
1. Perempuan yang menjaga diri dari berbuat haram lagi berbakti kepada Allah dan suaminya.
2. Perempuan yang banyak keturunannya lagi penyabar serta menerima dengan senang hati dengan keadaan yang serba kekurangan (dalam kehidupan) bersama suaminya.
3. Perempuan yang bersifat pemalu, dan jika suaminya pergi maka ia menjaga dirinya dan harta suaminya, dan jika suaminya datang ia mengekang mulutnya dari perkataan yang tidak layak kepadanya.
4. Perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya dan ia mempunyai anak-anak yang masih kecil, lalu ia mengekang dirinya hanya untuk mengurusi anak-anaknya dan mendidik mereka serta memperlakukannya dengan baik kepada mereka dan tidak bersedia kawin karena khawatir anak-anaknya akan tersia-sia (terlantar).

Kemudian Rasulullah S.A.W. bersabda : Dan adapun empat jenis wanita yang berada di neraka adalah :
1. Perempuan yang jelek (jahat) mulutnya terhadap suaminya, jika suaminya pergi, maka ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminnya datang ia memakinya (memarahinya).
2. Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang ia tidak mampu.
3. Perempuan yang tidak menutupi dirinya dari kaum lelaki dan keluar dari rumahnya dengan menampakkan perhiasannya dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik perhatian kaum lelaki).
4. Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan, minum dan tidur dan ia tidak senang berbakti kepada Allah, Rasul dan suaminya.

Oleh karena itu seorang perempuan yang bersifat dengan sifat-sifat (empat) ini, maka ia dilaknat termasuk ahli neraka kecuali jika ia bertaubat. Diceritakan dari isteri Khumaid As-sa-idiy bahwa ia datang kepada Rasulullah S.A.W. lalu berkata : “Hai Rasulullah sesungguhnya aku senang mengerjakan sholat bersamamu”. Beliau berkata : “Aku mengerti bahwa engkau senang mengerjakan sholat bersamaku, akan tetapi sholatmu di tempat tidurmu itu lebih baik dari pada sholatmu dikamarmu dan sholatmu dikamarmu lebih baik dari solatmu dirumahmu dan sholatmu dirumahmu lebih baik daripada solatmu di mesjidku”.  (Bagi lelaki sangat dituntut sembahyang berjemaah di mesjid).




Menyimak hal tersebut di atas.... jika melihatnya dengan kacamata keimanan, maka semuanya tidak akan menjadi beban buat seorang perempuan/istri dalam menjalani kehidupannya. Bahkan justru akan menjadi lebih terpancarkan keindahan sinarnya dalam menjalani biduk rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Istri solehah akan selalu menjadi sumber kekuatan, tempat bertenang ketika gelisah melanda jiwa, tempat berbagi ketika resah menghimpit hati. Istri solihah bukanlah tipe wanita materialistis, yang ketika ada uang, abang disayang, nggak ada uang abang jangan pulang atau piring melayang. Sabar disaat kesulitan melanda, qana`ah dengan apa yang ada dan bersyukur ketika mendapat kelebihan rezki. Bagi seorang istri solihah keridhaan suami adalah diatas segalanya, walau ia harus melawan keinginannya. Hidupnya seluruhnya ia abdikan untuk suami dalam rangka beribadah dan ketaatan pada Allah Swt. Istri solehah adalah ibarat taman indah nan penuh pesona. Tak lelah mata memandang keindahan budi pekerti dan tingkah lakunya.

Istri solehah selalu dirindu dan dikenang. Rindu pada belaian lembutnya, rindu pada teguran halusnya, rindu akan senyum tulusnya, rindu pada wajahnya yang teduh, air mukanya yang jernih dan rindu pada kata-katanya yang mesra. Hati akan resah bila lama tidak berjumpa, bila jarak telah memisahkan. Hati akan gelisah bila satu hari tidak bertemu. Karena cinta yang telah tenggelam dalam samudera hati, cinta akan kebaikan dan kebagusan akhlaknya. Sungguh benar apa yang disampaikan Rasulullah SAW. bahwa memilih wanita solehah akan membahagiakan seseorang di dunia dan di akhirat.



Istri solehah adalah harta yang paling berharga dan bernilai tinggi yang tiada duanya. Sungguh beruntung dan berbahagia seseorang yang dikaruniai seorang Bidadari Dunia. Hidup akan penuh dengan kebaikan dan ketaatan. Hidup yang selalu bersemangat, penuh cinta dan cita-cita mulia.

Ciri khas seorang wanita shalihah adalah ia mampu menjaga pandangannya. Ciri lainnya, dia senantiasa taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up-nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah memperbanyak dzikir kepada Allah di mana pun berada. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al Quran.

Jika seorang muslimah menghiasi dirinya dengan perilaku takwa, akan terpancar cahaya keshalihahan dari dirinya.

Wanita shalihah tidak mau kekayaan termahalnya berupa iman akan rontok. Dia juga sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi.

Wanita shalihah juga harus pintar dalam bergaul dengan siapapun. Dengan pergaulan itu ilmunya akan terus bertambah, sebab ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik sehingga hal itu berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Pendek kata, hubungan kemanusiaan dan taqarrub kepada Allah dilakukan dengan sebaik mungkin. Ia juga selalu menjaga akhlaknya. 



Pasangan suami istri akan mempunyai kelebihan menghadapi cobaan berumah tangga, ketika mereka berbekal pemahaman agama dan rasa ketergantungan yang tinggi kepada Allah SWT. Dengan kata lain, mereka mempunyai pemikiran yang mungkin tidak dirasakan oleh pasangan yang jauh dari Islam. Adakalanya kita memerlukan bantuan pihak ketiga dalam menyelesaikan masalah rumahtangga kita, kerana "kaca-mata" yang kita pakai sudah begitu kelabu sehingga gagal melihat semua kebaikan pasangan hidup kita. Mungkin pihak ketiga bisa membantu mencuci atau memperbaharui kacamata kita supaya pandangan kita kembali jelas dan wajar.

Pasangan yang bijak dan tinggi pemahaman agamanya, akan mampu untuk istiqamah dalam menjaga perkawinan mereka dan lebih mampu menghadapi badai melanda. Adalah penting sebelum kita mendirikan rumahtangga, mempunyai suatu tanggapan bahwa kita (suami/isteri) berjanji akan melengkapi antara satu sama lain, karena manusia bukanlah makhluk sempurna. Manusia tidak mungkin dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna seperti bidadari atau malaikat. Kita harus siap menerima pasangan hidup seadanya, termasuk segala kekurangannya, selama tidak melanggar syariat. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebiasaan dan watak yang berbeda, yang membentuk watak dan persepsi hidup tersendiri. Apabila kita menerima keadaan ini, insyaAllah kita akan berhasil menghindar dari menikah dalam illusi kita pada hari kita diijabkabulkan, tetapi sebaliknya kita sudah menikah dalam realitas kita. Setiap pasangan Muslim, tidak boleh menjadikan rumahtangga sebagai tujuan. Ingat, ia hanya alat untuk kita meningkatkan diri dan ketaqwaan kepada Allah SWT.  Menikah berarti kita mampu mengawal nafsu daripada langkah yang salah. Dan dari semua ini, akan mendapat pahala dari Allah SWT.  Betapa indahnya Islam.  



Akhirnya, semoga tulisan ini menjadikan manfaat buat kita semua (khususnya diri ini) dan sekaligus menjadikan sebuah do'a dalam pengharapan ku sebagai suami yang bragajul, untuk menepis kegersangan hati kita dalam berumah tangga. Amin.......

Mohon maaf jika ada tutur yang salah, karena kebenaran yang sempurna mutlak milik Allah SWT, sedangkan manusia (saya) adalah gudangnya kesalahan.    

Salam Ukhuwah sahabat......









Minggu, 12 Februari 2012

Sudahkah Rumahku menjadi Surgaku...?




Photobucket


Pembahasan tentang berkeluarga selalu menjadi kajian yang menarik dan menggoda hati setiap insan. Karena memang  keluarga dalam pandangan Islam adalah “labinatul ulaa” (batu pertama) dalam bangunan masyarakat muslim dan merupakan taman yang mendatangkan kasih sayang, ketenangan, kedamaian dan keharmonisan. Kebahagiaan rumahtangga adalah surga kecil yang diharapkan semua orang, sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW : “Rumahku Surgaku..” .


"Semoga menjadi keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah".

Kata-kata itulah yang sering diucapkan atau ucapan yang diberikan kepada calon suami-istri yang akan menikah.
Peranan agama dalam membentuk keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah sangat penting, karena agama merupakan ketentuan-ketentuan Allah Swt yang membimbing dan mengarahkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Allah Swt berperan ketika pemeluk-Nya memahami dengan baik dan benar, menghayati, dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari agama yang dianutnya, yaitu Islam.
Dalam pandangan Al-Qur’an, salah satu tujuan pernikahan adalah untuk menciptakan keluarga sakinah, mawaddah warahmah antara suami dan istri bersama anak-anaknya.
Hal ini tercemin dalam Al-qur’an, Allah berfirman,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (sakinah), dan dijadikan-Nya diantaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. “ (Ar-Ruum [30]: ayat 21)




 1. Sakinah  mengandung makna ketenangan.
Sakinah terlihat pada kecerahan raut muka yang disertai kelapangan dada, budi bahasa yang halus, yang dilahirkan oleh ketenangan batin akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati, serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat. Itulah makna sakinah secara umum dan makna-makna tersebut yang diharapkan dapat menghiasi setiap keluarga yang hendak menyandang Keluarga Sakinah.

 2. Mawaddah  mengandung arti rasa cinta.
Mawaddah ini muncul karena di dalam pernikahan ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang istri, suami dapat merasakan kesenangan dan kenikmatan, serta mendapatkan manfaat dengan adanya anak dan mendidik dan membesarkan mereka. Disamping itu dia merasakan adanya ketenangan, kedekatan dan kecenderungan kepada istrinya. Sehingga secara umum tidak akan didapatkan mawaddah diantara manusia yang satu dengan manusia yang lain sebagaimana mawaddah (rasa cinta) yang ada di antara suami istri.

3. Rahmah  mengandung arti Rasa Sayang
Rasa sayang kepada pasangannya merupakan bentuk kesetian dan kebahagiaan yang dihasilkannya.
Perlu digaris bawahi bahwa sakinah mawaddah warahmah tidak datang begitu saja, tetapi ada syarat bagi kehadirannya. Ia harus diperjuangkan, dan yang lebih utama, adalah menyiapkan kalbu. Sakinah, mawaddah dan rahmah bersumber dari dalam kalbu, lalu terpancar ke luar dalam bentuk aktifitas sehari-hari, baik didalam keluarga maupun dalam masyarakat.




Perjalanan berkeluarga dan membina rumah tangga tidak selalu seindah melewati  jalan bertaburan bunga yang harum mewangi, ada kalanya jalan yang dilalui adalah lintasan penuh duri dan bebatuan yang tajam.  Jika tidak diantisipasi dan disikapi dengan tepat,  maka kehancuran rumahtangga menjadi akhir kisah cinta yang pernah dibina.
 
Biasanya awal kehancuran itu adalah berkurangnya kemesraan suami istri, dikarenakan lemahnya kesadaran bahwa perjalanan rumahtangga tidak selalu indah, ditambah lagi dengan kurangnya pemahaman bahwa hidup ini hanyalah ujian dari Allah kepada hamba-Nya, termasuk pasangan hidup kitapun adalah ujian tersendiri bagi kita.

Ada sebagian orang diawal pernikahan sangat mengharapkan kesempurnaan pasangannya, dalam perjalanan biduk rumahtangga, semua sifat  dan karakter asli dari pasangan tidak  diterima sebagaimana  adanya. Semua hanya berujung pada kekecewaan. Sebagian lagi menjadi tidak harmonis karena satu sama lain tidak terbuka dalam masalah-masalah kehidupan, sehingga tersumbatnya jalur jalur komunikasi menjadikan suasana rumah tangga semakin misterius.  Dan tidak jarang pula ketidak harmonisan di rumah tangga diakibatkan terbiasa membesar-besarkan masalah yang sebenarnya remeh.
Jika cinta tak lagi bersemi indah, meski tidak bercerai secara fisik tetapi hati  antara yang satu dengan yang lain sebenarnya sudah tidak bertautan lagi. Na’udzubillahi min dzalik.


Maka penting bagi kita merawat cinta kasih agar terhindar musibah rumah tangga.  Ada beberapa hal yang mulai hari ini dan seterusnya penting kita perhatikan  dan senantiasa kita rawat, antara lain:

1. Ketaqwaan
Menurut Sayyid Quth dalam tafsirnya—Fi Zhilal Al-Qur`an—taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri kehidupan.

Dalam sebuah riwayat juga dikisahkan saat Umar ra bertanya kepada Ubay bin Ka’ab apakah taqwa itu? Dia menjawab; “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?” Umar menjawab; “Pernah!” Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab; “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.” Maka Ubay berkata; “Maka demikian pulalah taqwa!”

Berangkat dari pemahaman kita tentang taqwa, maka dalam mengayuh biduk rumah tangga kita perlu senantiasa mengasah kepekaan hati kita, agar hati kita menjadi penuh dengan kesadaran dalam menjalani semua liku kehidupan kita, senantiasa waspada ketika godaan dan cobaan datang menghadang.

Masalah apapun yang kita hadapi dalam berumah tangga, pastikan pilihan-pilihan sikap, perilaku dan perkataan kita hanya yang di ridhoi oleh Allah. Segarkan selalu cinta pada pasangan kita dengan menyegarkan kesadaran kita, bahwa: “Aku mencintai pasanganku semata mata karena kecintaanku pada Allah.”




2. Kasih Sayang
Kasih sayang adalah dua kata yang seolah sederhana namun pada kenyataannya tidak sesederhana mengucapkannya. Misal untuk para suami kadang merasa sudah memberikan kasih sayang pada istrinya padahal sang istri justru tidak merasakan apa yang dimaksud oleh suaminya dengan kasih sayang.

Yang saya maksud dengan kasih disini adalah sebuah perwujudan dari perasaan cinta kepada pasangan dengan memberikan nafkah lahir,  sedangkan sayang diwujudkan dalam bentuk nafkah batin untuk keluarga kita.

Terkadang memang terkesan seperti kurang adil jika ternyata kita baru memberi kasih tetapi belum memberi sayang. Atau sebaliknya bisa jadi kita baru memberi sayang tetapi belum dapat sepenuhnya memberi kasih pada pasangan dan keluarga kita.

Dengan senantiasa memperhatikan pemenuhan kasih dan sayang pada keluarga kita insyallah kemesraan akan selalu terjaga kehangatannya.




3. Kesetiaan
Dalam berumah tangga kesetiaan bukanlah sekedar berdampingan, tetapi yang dimaksud dengan setia termasuk juga menjaga kemuliaan, akal, jaminan hidup, keilmuan, keselamatan jiwa dan keturunan.

Dengan senantiasa berupaya menjaga kesetiaan pada pasangan dan keluarga insyaAllah biduk rumah tangga yang dikayuh akan senantiasa kuat walau badai menghantam. Mari senantiasa memperhatikan kemuliaan pasangan kita, memberikan pendidikan yang terbaik bagi pasangan dan keluarga kita. Hingga benar-benar terwujud rumah tangga yang kuat dan harmonis sebagai penopang peradaban dimasa yang akan datang.

4. Komunikasi
Komunikasi ibarat air bagi tumbuhan. Tanpa komunikasi cinta kita akan layu, kering dan akhirnya matilah romantisme kehidupan keluarga.

Komunikasi yang baik dengan pasangan dan keluarga memiliki peranan yang penting untuk merawat cinta kasih dalam membina rumahtangga. Bayangkan bila seandainya suami dan istri  jarang berbicara dan tidak mau mendengarkan atau memberikan respon ketika pasangannya mengajak berbicara. Sudah pasti pasangan itu tidak akan saling memahami atau mempunyai hubungan dekat satu dengan yang lain. Mereka hanya akan seperti orang asing yang berkumpul dalam satu atap rumah. Rumah hanya akan menjadi seperti kuburan.

Memang menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan dan  keluarga tidaklah semudah membalikkan tangan. Maka sudah semestinya kita membangun kesadaran akan tanggung jawab atas  diri kita masing-masing untuk terus mengusahakan, memelihara, dan mempertahankan agar komunikasi dapat berjalan baik. Namun, meskipun telah diusahakan, terkadang komunikasi itu masih tidak bisa terjalin dengan baik. Perbedaan pendapat, kebutuhan, sifat, atau kemampuan masing-masing pasangan dan anggota keluarga bisa menjadi penyebab ketidaklancaran komunikasi dalam rumah tangga.

Teruslah berkreasi dalam menemukan pola komunikasi terbaik dengan pasangan dan keluarga kita, agar cinta kasih dan keharmonisan senantiasa tumbuh bagai bunga bunga nan indah dalam rumah tangga kita.



 5. Keterbukaan
Ternyata dengan komunikasi saja belumlah cukup, karena bisa saja komunikasi  berlangsung tanpa keterbukaan. Namun kenyataannya keterbukaan itu tidak akan bisa lahir tanpa adanya komunikasi.

Keterbukaan merupakan sikap yang perlu di biasakan bagi pasangan suami istri. Dalam merawat cinta kasih dan memelihara keharmonisan rumah tangga.

Sikap tertutup antara suami istri dan anggota keluarga dapat mendatangkan masalah, sebaliknya keterbukaan akan membawa kebaikan berlimpah bagi pasangan suami istri, atau setidak-tidaknya dapat mengurangi masalah-masalah yang seharusnya tidak terjadi.

Dalam membina rumah tangga keterbukaan itu akan lahir jika kita membiasakan untuk mengomunikasikan segala sesuatu kepada pasangan kita, jangan biarkan pasangan kita menduga-duga dan menjadi kecewa, karena seolah-olah ada yang masih kita sembunyikan.

Dengan keterbukaan maka akan terjadi “Kutahu yang kumau dan kutahu yang kau mau” atau juga “kau tahu yang kau mau dan kautahu yang kumau”



6. Kejujuran
Dalam mengayuh biduk rumah tangga kejujuran adalah faktor lain yang menjadi pilar penting untuk memelihara cinta kasih dan menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”

Sungguh kejujuranlah yang mengundang kebaikan itu hadir dalam rumah tangga kita. Berbohong adalah sukses jangka pendek, karena sekali ketahuan berbohong oleh pasangan kita maka secara otomatis runtuh sudah benteng kepercayaan, digantikan dengan prasangka dan kecurigaan-kecurigaan.

Kejujuran adalah sukses jangka panjang. Allah SWT dan hati nurani selamanya tidak dapat dibohongi oleh siapapun dan dengan cara apapun.

Kejujuran bukan sekedar tidak mencuri tetapi tidak melakukan tindakan-tindakan yang mencurigakan dalam kehidupan berumah tangga juga merupakan suatu kejujuran.

Ingatlah! Kejujuran itu adalah hal yang tiada ternilai dalam rumah tangga kita. Ingatlah! Kejujuran sesungguhnya telah banyak menyelamatkan rumah tangga dari bencana perceraian.

Semoga Allah senantiasa menjadikan cinta dan kasih sayang dalam keluarga kita senantiasa segar dan harum. Hingga terwujudkan hubungan cinta dan saling berkasih sayang dengan memelihara kemesraan dalam kehidupan rumah tangga. Amin.......



Photobucket

Photobucket


Wallahu’alam.




di posting dari: 
- Ahmad Lubis (Praktisi Hipnosis)
- Keluarga Sakinah










Rabu, 19 Oktober 2011

Kejujuran hati seorang sahabat .......





Sebenarnya setiap manusia adalah SELEBRITIS, 
bukankah setiap hari kita dishooting oleh malaikat RAQIB dan ATID, 
mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi.
Bayangkan....!
Dokumen film itu akan diputar ulang di bioskop AKHIRAT nanti tanpa SENSOR sedikitpun, 
hanya mereka yang berakting sesuai tuntutan SKENARIO AL-QUR'AN dan HADIST lah yang akan mendapatkan PIALA SYURGA AWARD.
Mau piala.....?
Ayo perbaiki akting kita lewat IMAN dan TAQWA.
Semoga kita mendapatkan PIALA SYURGA FIRDAUS..... Amin..
Mari kita SHOLAT tepat waktu, kalau kamu mau berhasil.

ajakan ku,  untuk sahabat ........




Hati ingin selalu berada di dekat mu, tak ingin sedikitpun berada jauh dari mu
kau yang selama ini mengajariku arti kekuatan, dan kau pula yang mengajariku jalan kesuksesan

Sahabat......masih terlihat jelas bayangan saat kita bersama, saat kau genggam tangan ini untuk memberikan semangat, saat kau menghibur diri ini dikala duka. Disaat kau membawa diri ini ketempat ....kemanapun yang ku mau. agar diri ini merasa bahagia. Disaat kau memenuhi apa yang menjadi keinginanku. Ku takan pernah bisa melupakan pengorbananmu sahabat......
Kini saatnya aku harus pergi untuk menggapai cita.....berat hati ini untuk memendam rasa rinduku pada mu. Meskipun disaat seperti ini kita tak sempat saling bertemu karena kesibukkan.....tapi hati ini kan selalu menyayangi mu....ku merindukan mu sahabat.........

laa takhof  wa laa tahzan .... innAllaaha ma'anaa .....

Suatu kebahagiaan hanya dirasakan oleh hati, dan mungkin sulit untuk diungkapkan oleh kata.
Itu yang ku rasakan, saat bareng bersama mu.

Apa yang kamu rasakan ....semuanya sama dengan apa yang ku rasakan, tidak ada perbedaan sedikitpun, 
Kita merasakan sesuatu yang lebih.....ketika dekat sama kamu.
Kadang aku suka teringat sama kamu terus kalau aku lagi di sini....terbayang senyuman kamu, yang membuat aku semangat.


laa takhof  wa laa tahzan .... innAllaaha ma'anaa .....

Tidak tahu kenapa .....
dari malam bahkan tadi shalat shubuh pun aku tidak bisa menahan air mata,
karena terharu rasa kebahagiaan saat bareng...dan kesedihan saat pisah sama kamu.
Suatu kebahagiaan Insya Allah aku tidak akan lupa,
disitu aku mulai termotivasi untuk menjalani hidup,
padahal baru tadi sore aku berpisah sama kamu, tapi rasanya seperti yang sudah lama aku tidak ketemu sama kamu.
Mudah-mudahan suatu saat nanti aku bisa ketemu lagi bersama mu, dengan suatu kebahagiaan yang lebih dari ini.
Aku minta maaf .... kalau ada sikapaku yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kamu.


 
Yaa Rabb ...
Engkau yang Maha Pengasih ......
kasihanilah kami semua dengan Rahmat Mu .....
berilah kebahagiaan kepada orang yang telah membuat kami bahagia ......
berilah keberkahan hidup untuk kami semua ......

Yaa Rabb ....
Jadikan persahabatan dan pertemuan ini menjadi suatu keberkahan untuk kami semua.... dengan satu tujuan dan satu arah, yaitu "KeridhoanMu" ..... Amin.....



laa takhof  wa laa tahzan .... innAllaaha ma'anaa .....

Andai saja kamu ada disini, mungkin akan tahu bagaimana keadaan dan perasaan ku.
dan mungkin juga aku tidak akan sesedih ini ....
Sering kali aku teringat masa pada waktu aku dahulu, mungkin tidak bisa aku ucapkan dengan kata.
Di sini dan tempat ini aku hanya bisa menangisi keadaan, aku tidak mau  kamu ninggalin aku.
Aku ingin merasakan suatu kebahagiaan bersama kamu yang lebih dari sebelumnya, pada saat nanti aku sudah mencapai apa yang ku harapkan selama ini.
Aku sayang kamu, mungkin kamu adalah orang yang Allah kirim buat aku, setelah sekian lama aku ingin punya sahabat yang bisa tahu keadaan aku.

Ilaahi ..... Anta maqshuudii ... Wa ridhooka mathluubi ....

Sebenarnya .....
Hati ini rindu ingin bertemu dengan mu, namun bila dipikirkan .... rasanya diri ini malu,
takut jika suatu saat nanti aku tidak bisa menjadi orang yang kau harapkan.




Ilaahi ..... Anta maqshuudii ... Wa ridhooka mathluubi ....

Betapa pilunya hati ini saat mendengar ucapan "selamat tinggal sahabat"  dari diri mu
meski semua dianggap bercanda, tetapi hati ini terasa terpukul, seakan aku takut kehilangan mu
takut bila aku harus berpisah dengan mu

Mesti hati ini selalu gelisah, seakan takut kehilangan mu......namun apalah daya kau slalu berbuat seperti ini.
Walau hati ini terasa sulit untuk menerimanya......
Harus bagaimana lagi, mungkin ku hanya bisa menangisi semua yang terjadi.



Laa takhof wa laa tahzan ..... InnAllaaha ma'anaa....

Pada suatu hari Umar bin Khatab bertanya pada gurunya: "Apakah cinta sejati itu...?"
Guru menjawab:
Berjalanlah lurus di taman bunga yang luas...petiklah satu bunga yang terindah menurut mu, dan jangan pernah berbalik ke belakang.
Kemudian Umar melaksanakannya.....dan kembali dengan tangan hampa...
Guru bertanya:  "Mana bunganya...?"
Umar menjawab: "Aku tak bisa mendapatkannya....?", sebetulnya aku telah mendapatkannya, tapi aku berfikir ....di depan pasti ada yang lebih bagus lagi.
Ketika aku telah sampai di ujung taman, aku baru sadar...bahwa yang aku temui pertama tadi itulah yang terbaik, tapi aku tidak bisa kembali lagi ke belakang.
Guru menjawab: 
"Seperti itulah cinta sejati........" semakin kau mencari yang terbaik, maka kau takan pernah menemukannya. Jangan pernah tumbuh di hatimu....karena waktu "TAK AKAN" pernah kembali.......




Aku malu atas semua kebaikan dan kasih sayang yang kamu sudah berikan buat ku, dan aku lebih malu lagi kepada Allah yang sudah ngirim kamu buat ku....
Mungkin selama ini kamu berharap kalau aku bisa hafal Al-Qur'an dan bisa berangkat ke Madinah......mungkin itu alasan kamu mau dekat sama aku.....
Aku takut dan khawatir kalau kedepan nya nanti aku belum bisa mencapai itu semua....kamu justru malah berubah. Takut kalau kamu ninggalin aku pada saat aku belum bisa mencapai apa yang kamu harapkan.

Ilaahi ..... Anta maqshuudii ... Wa ridhooka mathluubi ....


Ya Allah .....
perkayalah saudaraku ini dengan keilmuan ...
hiasi hatinya dengan kesabaran .....
muliakan wajahnya dengan ketaqwaan ....
perindah fisiknya dengan kesehatan .....
serta terimalah amal ibadahnya dengan kelipatgandaan .....




Amin...ya Allah.....ya...Rabbal'alamiin............